Save Our Wolrd - Ide Sederhana Kurangi Dampak Buruk Penggunaan Plastik Bagi Bumi

Dzargon - Manusia adalah mahluk paling unik di muka bumi, karena manusialah satu-satunya mahlaku yang menebang pohon dna membuat kertas lalu menulis "jangan tebang pohon". Tidak hanya sampai disitu, manusia adalah satu-satunya mahluk di muka bumi yang membuat sampah yang tidak akan pernah bisa terurai.

Sebut saja salah satu sampah yang tidak pernah bisa terurai secara alamiah, yakni Stereoform. Bentuk dari Stereofom akan selalu sama sampai 1000 tahun ke depan, jadi bisa kebayang seberapa banyak sampah stereofom yang terkumpul di samudra saat ini?

Saat ini manusia memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan polimer tipe plastik. Hasilnya, Plastik menjadi salah satu jenis sampah yang banyak ditemukan di bumi. Parahnya lagi, Plastik merupakan jenis sampah yang tidak bisa terurai.

Sampah pelastik di Lautan limbah plastik

Selalu Ada Di mana-Mana

Kehidupan manusia modern selalu berkaitan dengan pelastik, hampir semua lini selalu berkaitan dengan polimer yang sulit terurai ini. Padahal manusia hanya membutuhkan sebagain besar dari pelastik yang mereka gunakan tidak begitu urgent, hanya untuk menopang gaya hidup, life style.

Sebut saja penggunaan plastik dalam lini makanan dan minuman yang sudah menjadi bagian kehidupan kita. Plastik ditemukan saat kita sedang belanja makanan, minuman atau keluar dari toko serba ada. Saat benda-benda tersebut tidak lagi digunakan, pada saat itulah mereka berubah status menjadi sampah dan terlupakan.

Syukur-syukur jika sampah tersebut melalui tahapan yang sebagai mestinya yakni di daur ulang seperti di banyak negara maju, namun seperti di Indonesia, proses daur ulang sampah tidak terjadi di setiap daerah. Daur ulang hanya terjadi di beberapa kota maju, sedangkan banyak dari sampah tersebuh akhirnya berakhir di sungai yang mengalir ke Samudra.

Sebagai mahluk yang memanfaatkan bumi sebagai satu-satunya rumah kita, tentu saja menjaga keberlangsungan hidup di bumi adalah tugas dari manusia, oleh karena sampah palastik adalah mush utama bersama.

Namun di sisi lain perkakas dari pelastik seperti sedotan, botol plastik dan kantok kresek hampir sama sekali tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Oleh karena itu Dzargin ingin berbagai beberapa tips sederhana ahar kita dapat membantu alam ini tetap layak untuk menjadi tempat tinggal kita.

1. Bank Sampah

Manusia merupakan mahluk palin pragmatis di muka Bumi, kalaupun ada yang idealis, paling tidak itu hanya sebagian kecil saja, selebihnya adalah manusia Pragamatis. Pragmatis ini membuat manusia menjadi mahluk perkakas yang menciptakan segala kebutuhan untuk tetap berhatan hidup namun sayangnya terkadang menyepelekan alam.

Hal ini praktis membuat kampanye-kampanye antik plastik semakin sulit dilakukan, karena tidak dampak nyata yang dirasakan oleh para manusia bebal pengguna plastik ini.

Salah satu cara yang paling ampuh adalah memberikan imbalan bagi mereka yang suka menggunakan sampah agar tidak dibuang sembarangan. Solusinya mungkin melalui program bank sampah.

Bank Sampah adalah tempat pengumpulan dan penyimpanan sampah, hanya memiliki perbedaan dengan tempat pembuanagan sampah. Jika di tempat pembuangan sampah, sampah hanya akan ditumpuk begitu saja, di bank sampah, Sampah dapat dinilai dengan rupiah.

Hanya saja, perlu pertauran dan regulasi khusus dalam pembuatan bank sampah agar pengelola bank sampah dan penyeor sampah sama-sama untung. Misalnya bank sampah hanya menerima sampah yang memiliki nilai jual dari sampah yang dapat di daur ulang dan sampah yang masih bisa memiliki nilai guna seperti sampah organik.

Untuk saat ini kita fokus pada sampah plastik. Pelastik tentu saja sampah yang sangat sulit terurai di alam, bahkan membutuhkan wantu sampai ratusan tahun agar bisa terurai, akan tetapi sampah masih bisa di daur ulang menjadi plastik hitam yang menjadi bahan dasar pembuatan produk non-food, seperti helm, Dasboard mobil, Spak board motor dan lain-lain.

Bank sampah cara merubah sampah emnjadi emas

Dalam hal ini Bank sampah membantu mereka yang ingin membuang sampah plastik mereka, namun pembuang sampahnya akan diberikan imbalan berupa uang. Meskipun jumlah kecil, namun karena di stor di bank sampah, maka uangnya bisa disimpan sebagai saldo tabungan dan dapat diambil jika uangnya sudah terkumpul.

Uang ini diharapkan mampu memberikan motivasi yang cukup besar bagi masyarakat agar tidak membuang sampah lagi sembarangan karena menganggap sampah itu bukan sampah lagi, melainkan sumber uang tambahan.

Di Indonesia sendiri sudah banyak daerah yang memebrlakukan Bank sampah atau program tukar sampah menjadi uang, namun untuk program yang serius menangani sampah plastik ini seperti baru dilakukan oleh PT. Pegadaian yang mengadakan Bank Sampah sampai level nasional, hebatnya lagi, program ini bahkan dapat merubah sampai menjadi emas.

2. Sedotan Reusable dan Tumbler

Life style menjadi salah satu penyebab laju peningkatan penumpukan sampai di samudra, semakin sering seseorang minum-minuman kemasan baik itu take away maupun minum di tempat, ternyata memiliki hubungan yang erat dengan meningkatnya jumlah sampah plastik di lautan.

Life style manusi amengubah segalanya hampir dilakukan di luar rumah dan dijalan, termasuk makan, jajan dan keperluang hang out. Dari seluruh aktiftas tersebut sellau melibatkan plastik baik itu untuk gelas yang digunakna untuk minum, botol air mineral maun sedotan yang digunakan.

Meskipun terlihat sederhana, sedotan ternyata membawa dampak buruk bagi lingkungan. Berdasarkan data yang dihimpun dari Tirto.id. Penggunaan sedotan di Indonesia saja mencapai angka 93,2 juta unit setiap harinya.

Angka yang cukup fantastis bukan? Jika sedotan ini disusun berurut, maka panjangnya setara dengan tiga kali keliling bumi, bisa kebayang tidak? Kira-kira berapa banyak sampah yang menumpuk di samudra dalam setahun untuk bahan sedota saja?

Belum lagi ditambah plastik yang sangat banyak, tentu saja membuat dunia ini semakin edan dan lingkungan porak-poranda dengan plastik.

Untuk menangani masalah ini tentu saja ada dua yakni (1) menciptakan botol dan sedotan dari bahan bukan plastik dan mudah teruari di alam, atau yang ke (2) mengurangi atau bahakn sama sekali tidak menggunakan pelastik lagi untuk kategori sedotdan dan botol minuman.

Langkah pertama tentu saja sulit dilakukan secara individu, karena dibutuhkan modal yang cukup besar untuk membuat Sedotan dan botol yang tahan air namun bisa terdegradasi dengan muda di alam.

Kendati demikian, di Jepang sendiri sudah banyak digunakan "plastik" berbahan organik dan mudah terurari. Kebanyak dari pelastik ini dibuat dari selulosa atau semacam gula dengan rantai yang lebih panjang dan Glukosa dan Maltosa.

Sedangkan di Indonesia sendiri yang selalu ketinggalan Inovasi, hal ini masih sulit untuk dilakukan.

Kalau begitu sebagai warga negara Indonesia anti mainstream karena cinta lingkungan, yakni memilih opsi II, yakni mengurangi atau sama sekali tidak menggunakan pelastik sebagai sedotan dan botol minuman sekali pakai.

Yah caranya cukup mudah, tentu saja dengan memiliki sedotan yang reusable seperti sedotan stainles, dan dibawa ke mana-mena. Sedangkan untuk kebutuhan air mineral, tentu saja dapat digantikan dengan tumbler.

Cewek cantik minum air dengan tumbler seksi dan hot


Lah bukannya tumbler dari plastik juga?

Tentu saja saat ini banyak tumbler yang terbuat dari plastik hanya saja penggunaan tumbler dapat mengurangu jumlah penggunaan botol pelastik kamu. Perhitungannya sederhana, jika kamu membeli botol Tumbler, tentu saja kamu mungkin saja mengurangi penggunaan air mineral kemasan sekali pakai sebanyak 2 atau dalam tiga botol dalam sehari.

Dalam setahun kamu bisa mengurangi jumlah penggunaan botol plastik sebanyak 700 botol loh.  Hal ini berarti kamu baru saja menyelamatkan samudra dari 700 sampah plastik dalam sehatun. Jika kamu dan keluargamu melakukan hal yang sama, bayangkan dampaknya tentu saja sangat besar.

0 Response to "Save Our Wolrd - Ide Sederhana Kurangi Dampak Buruk Penggunaan Plastik Bagi Bumi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel