Menyongsong Indonesia Emas dengan Menjadi Wirausaha - Dzargon

Menyongsong Indonesia Emas dengan Menjadi Wirausaha

Menyongsong Indonesia Emas dengan Menjadi Wirausaha

Dzargon - Indonesia merencanakan untuk menjadikan generasi mudanya sebagai generasi Emas pada 2045. Hal ini sejalan dengan cita-cita Indonesia saat menginjak usia kemerdekannya 100 tahun. Untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas pada tahun 2045, terdapat tiga tahapan pembangunan yang akan dilaksanakan pada sepuluh tahun ke depan. Tahapan pertama yang menjadi pondasi dari seluruh aspek pembangunan yakni infrastruktur. Infrastruktur menjadi aspek utama yang hendak ditingkatkan fasilitasnya, dengan tujuan meminimalisir biaya logistik dan transportasi.

Tahapan kedua yang menjadi fokus pembangunan adalah industri pengolahan yang berbasis pada bahan-bahan mentah. Maksud dari hal ini adalah adanya pengelolaan bahan-bahan mentah menjadi bahan jadi atau setengah jadi. Karena bahan mentah yang telah dikelola akan memperoleh hasil yang lebih menguntungkan, dibandingkan dengan jika hanya menjual bahan mentah. Oleh karena itu kemampuan sumber daya manusia untuk dapat mengelola bahan mentah ini perlu juga ditingkatkan. Pemerintah sudah semestinya mmfasilitasi adanya pendidikan dan pelatihan yang sesuai kebutuhan guna menunjang kompetensi masyarakat dalam mengelola bahan mentah. Karena jangan sampai, kita memiliki infrastruktur yang memadai, sumber daya alam yang melimpah, namun sumber daya manusianya tidak mampu memanfaatkan seluruh fasilitas tersebut secara optimal.

Tahapan selanjutnya yang menjadi fokus pemerintah, berkaitan dengan pengembangan industri jasa. Pada tahap ini pemerintah mengharapkan para pemuda dapat lebih peka untuk melihat peluang dalam membangun serta mengembangkan usaha di bidang jasa. Karena pemerintah menilai usaha di bidang jasa memiliki peluang yang besar, terutama jasa di bidang pariwisata. Sebagai negara yang dikelilingi oleh daratan serta lautan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang belum tergali seluruhnya. Para putra daerah diharapkan dapat memanfaatkan potensi wisata yang ada di daerahnya untuk dikembangkan sehingga jangan sampai potensi wisata ini nantinya jatuh ke tangan investor asing. Kita dapat mengambil contoh Bali. Berdasarkan data statistik, Bali termasuk daerah yang memiliki tingkat pengangguran yang rendah. Mayoritas masyarakat di Bali, bekerja di bidang pariwisata, yang merupakan potensi terbesar Pulau Dewata.

Apabila kita menganalisis cita-cita Indonesia Emas pada tahun 2045 serta tahapan-tahapan untuk merealisasikannya, kita akan memperoleh dua poin yang berisi pengembangan wirausaha di bidang produk maupun jasa. Hal tersebut mengindikasikan bahwa belum banyak masyarakat Indonesia yang memanfaatkan sumber daya secara optimal untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonominya. Kita pun tidak dapat menafikan fakta yang dikemukakan oleh Badan Pusat Statistik yang mengemukakan bahwa jumlah pengangguran Indonesia mencapai 7,01 juta orang per 2018 ini. Lantas bagaimana kita mampu berdiri tangguh di bidang ekonomi jika pada saat ini jumlah masyarakat yang belum memiliki pekerjaan mencapai angka 7 juta orang? Bukankah masa depan tergantung dari apa yang dilakukan hari ini?

Kita juga tidak boleh lupa terhadap satu fakta lain yang mengemukakan bahwa pada 2030 diprediksi Indonesia akan mengalami lonjakan jumlah penduduk atau bonus demografi. Bonus demografi ini di satu sisi dapat menjadi kekuatan untuk menopang pembangunan, namun di sisi lain bonus demografi dapat menjadi penghambat pembangunan karena dapat meningkatkan jumlah pengangguran. Arah bonus demografi ini tergantung pada seberapa kompetenkah sumber daya manusia untuk membangun Indonesia dari seluruh aspek kehidupan.

cewek SMA manida pakai HIjab jadi SMK jualn Kue Tradisonal
Sumber Gambar: smk2gre.blogspot.com

Pekerja vs Mesin di Era Digital

Belum selesainya masalah pengangguran Indonesia yang jumlahnya terbilang tinggi. Kita juga perlu memfokuskan diri pada era digital yang tengah kita hadapi saat ini. Perkembangan era digital yang cukup pesat dewasa ini, dikatakan sebagai sebuah ledakan industri yang keempat, setelah pada saat pertama ketika ditemukannya mesin uap, kedua pada saat penemuan listrik/elektrifikasi dan ketiga pada saat penggunaan komputer. Era digital ini bagai pisau beramata dua, Kun Wardana Abyoto, Anggota Dewan Pakar Asosiasi Serikat Pekerja (ASPEK) mengemukakan bahwa era digital diprediksi akan semakin menciptakan pengangguran karena lapangan pekerjaan yang tercipta jumlahnya lebih kecil dari pada lapangan pekerjaan yang hilang. Kun menambahkan, statistik ILO membuktikan bahwa di era digital, ada pekerjaan-pekerjaan yang menjadi hilang dan menciptakan pekerjaan baru, namun selisihnya sangat besar, sehingga akan terjadi banyak pengangguran.

Berkurangnya jumlah lapangan pekerjaan, sebagaimana yang diprediksi oleh ILO, dapat terjadi karena perusahaan-perusahaan mulai beralih untuk menggunakan mesin untuk menggantikan tenaga manusia. Sebagai contoh, kita dapat melihat pada sistem pembayaran tol, yang pada saat ini telah menggunakan e-tol. Sejak penggunaan e-tol ini, banyak pekerja tol yang ditarik untuk bekerja di Dinas Perhubungan.

Pada dasarnya, pilihan untuk menggunakan mesin ini dilakukan dengan alasan, mesin dinilai lebih efektif dan efisien. Karena bekerja secara otomatis dan minim kesalahan, yang disebabkan oleh human error. Mesin lebih rendah mengalami ketidak produtifan dibandingkan manusia, karena mesin tidak memerlukan waktu istirahat yang dapat mengurangi nilai produktivitas, belum lagi gangguan emosional yang sering dialami manusia, yang kemudian berdampak pada tingkat produktivitas perusahaan.

Menurut laporan International Labour Organization (ILO) terbaru, 242,2 juta buruh (56%) di lima negara kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, akan disingkirkan oleh mesin. Selanjutnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyatakan berdasarkan kajian McKinsey pada 2016, ada 52,6 juta pekerjaan di Indonesia yang berpotensi tergantikan dengan sistem digitalisasi dalam lima tahun ke depan. McKinsey juga memperhitungkan adanya 60 persen jabatan pekerjaan di dunia akan digantikan mesin-mesin canggih. Apabila hal tersebut kita sandingkan dengan kondisi kita saat ini, maka kita dapat memperkirakan bahwa jumlah pengangguran Indonesia akan bertambah semakin banyak. Apalagi jika ditambah dengan isu ledakan penduduk pada tahun 2030, angka pengangguran Indonesia dapat melonjak tajam.

cewek manis pakai HIjab MAsuk SMK dan manis centil
Sumber Gambar: suzieitaco.wordpress.com

Berwirausaha di Era Digital Demi Menyongsong Indonesia Emas 

Memahami isu berkembangnya penggunaan mesin pada era digital. Cina membuat kebijakan khusus yang melarang perusahaan ber-platform digital, seperti Google, Amazon dan Facebook untuk masuk ke negaranya. Hal tersebut dilakukan untuk melindungi perusahaan dalam negeri dari gempuran perusahaan asing. Langkah yang dilakukan Cina ini cukup berani, dan hal tersebut perlu diapresiasi karena artinya Cina dinilai cukup berani bersaing dengan asing yang dikenal lebih maju. Lantas apa yang perlu dilakukan Indonesia?

Jika Indonesia belum memiliki langkah strategis untuk mengantisipasi masuknya penggunaan mesin dan perusahaan asing, maka hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kompetensi sumber daya manusia Indonesia. Peningkatan kompetensi ini bertumpu pada dua hal, yakni kebijakan pemerintah dan SDM itu sendiri. Pemerintah, diharapkan dapat mempersiapkan pekerja-pekerja kompeten dengan memperhatikan kurikulum pendidikan vokasi dengan dunia industri, kemudian pemerintah dapat bekerjasama dengan pihak swasta untuk menyelenggarakan program-program yang membantu peningkatan kompetensi peserta didik.

Kemudian, meruncing pada fakta mengenai upaya pemerintah untuk meningkatkan kompetensi SDM di era digital. Maka, hal yang dapat dilakukan oleh manusia Indonesia adalah meningkatkan kompetensinya di bidang teknologi. Era digital yang berbasiskan mesin berteknologi, perlu dipahami sebagai sebuah peluang besar. Maka, untuk dapat berperan serta diperlukan kompetensi yang mempuni di bidang teknologi. Hal ini dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan formal maupun secara otodidak. Pada pendidikan formal, Anda dapat memilih jurusan yang berkaitan dengan pengembangan teknologi, seperti teknik informatika, sistem informasi, desain komunikasi visual, bioteknologi dan lain-lain. Namun, Anda juga dapat mempelajarinya secara otodidak, misalnya Anda mempelajari desain atau pengembang website. Namun, hal yang perlu menjadi catatan adalah pengembangan kompetensi manusia Indonesia di bidang teknologi, tidak akan berarti apabila sistem yang ada pada pemerintahan maupun perusahaan tidak mendukung pengembangan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya hubungan yang sinkron antara kebutuhan industri dengan kompetensi yang perlu dikembangkan oleh SDM Indonesia, agar banyaknya jumlah manusia Indonesia yang mempelajari teknologi tidak menjadi kebingungan saat bekerja nanti.

Selain menjadi pekerja yang mampu menguasai teknologi, hal yang sebenarnya paling diinginkan untuk dikembangkan oleh pemerintah adalah berkembangnya wirausaha berbasis teknologi. Karena sebagaimana yang telah dikemukakan di awal, untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas pada 2045, dua faktor yang paling penting dari hal tersebut adalah menciptakan wirausahawan yang menghasilkan produk maupun jasa. Sebagai sebuah bangsa yang kaya akan sumber daya alam, alangkah lebih menariknya jika SDA tersebut dikelola sendiri, yang kemudian dikenalkan pada asing. Kemudian apabila kemampuan mengelola SDA tersebut dilakukan dengan berlandaskan teknologi, tentu negara asing akan lebih menghargai manusia Indonesia.

Gagasan untuk menjadi wirausaha berbasis teknologi juga, sejalan dengan pernyataan Presiden Jokowi, yang mengemukakan bahwa jumlah wirausaha di suatu negara kerap dianggap sebagai indikator kemajuan. Menurut perhitungan dari negara-negara, minimal 2% dari jumlah penduduk suatu negara harus berprofesi sebagai wirausaha, untuk mendukung kestabilan ekonomi sebuah negara. Dengan demikian, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, paling tidak Indonesia harus memiliki 5 juta jiwa wirausaha.

Sebenarnya, jumlah wirausaha di Indonesia sudah mulai meningkat. Dalam kurun waktu dua tahun sejak 2015, jumlah wirausaha di Indonesia sudah meningkat menjadi 3,1%. Jumlah ini masih terus ditingkatkan. Pemerintah sendiri menargetkan jumlah wirausaha Indonesia mencapai angka 4% lebih, agar dapat menyamai persentase negara lain yang jumlah wirausahanya lebih banyak dari Indonesia. Seperti diketahui, jumlah wirausaha di Malyasia mencapai 5% dari total warganya, kemudian yang lebih memukau lagi Jepang dan Amerika Serikat yang sudah mencapai lebih dari 10%.

Oleh karena itu, di era digital ini, Presiden sangat menghimbau agar generasi muda dapat turun ke dunia bisnis. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa dalam memulai wirausaha diperlukan perencanaan yang matang, dengan melakukan penelitian atau survey terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan untuk memprediksi hambatan dan meminimalisir kegagalan. Dengan semakin berkembangnya teknologi, para pemula wirausaha sebenarnya telah dimanjakan dengan fasilitas yang ada, asalkan mampu melihat peluang dengan baik. Bisnis pengembang website, pembuat desain, pengembang aplikasi, pengembang artifisial intelegent merupakan bisnis yang menjanjikan karena belum banyak wirausaha yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut dengan optimal.

Dengan demikian, berdasarkan apa yang telah dikemukakan, kita dapat memahami bahwa bonus demografi, era digital dan tantangan mewujudkan Indonesia Emas bukan lagi menjadi hal yang ditakutkan, sudah semestinya kita memanfaatkan apa yang ada pada alam Indonesia ditambah dengan kemampuan SDM dalam memanfaatkan teknologi tentu akan menghasilkan hal yang sangat menakjubkan bagi perkembangan Indonesia. 

0 Response to "Menyongsong Indonesia Emas dengan Menjadi Wirausaha"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel