5 Dosa Para Pendaki Gunung Abal-Abal yang Alay dan Harus Dihindari


8 Dosa Para Pendaki Gunung Abal-Abal yang Alay dan Harus Dihindari

Dzargon - Anggapan mengenai hobi pendakian gunung adalah sesuatu yang keren, gagah, tangguh, keras, mandiri dan kekinian menjadi alasan kuat mengapa hobi pendakian gunung semakin sering dilakukan. Dampaknya adalah gunung akan semakin sesak dengan orang-orang yang awalnya sama sekali tidak tertarik dengan alam, ikut-ikutan naik gunung. Efek lainnya tentu saja banyaknya kesalahan dan Dosa yang dilakukan oleh para pendaki gunung abal-abal ini. Sebaiknya sobat tau sih biar tidak melakukan hal-hal yang merusak citra pendaki gunung.

#1 Pendakian Gunung Massal

Seiring dengan berkembangannya hobi pendakian gunung, banyak pihak yang mencari keuntungan bernilai ekonimis tanpa memperhatikan dampaknya terhadap gunung, asal kantong tebal, segala macam dilakukan termasuk melakukan kegiatan pendakian gunung massal. Tidak tanggung-tanggung kada satu gunung bahkan bisa di hadiri mulai 500 sampai 3000 orang sekali kegiatan. 

Jumlah pendaki yang banyak tentu saja merusak lingkungan hidup dan kehidupan alam yang ada di atas gunung. Mari berfikir positif terlebih dahulu, Rumput yang di injak selama trecking dan membangun tenda tentu saja punya daya regenerasi agar terganti dengan rumput baru, namun jika pendakinya lebih dari seribu tentu saja lebih banyak rumput yang rusak dan mengurangi daya tumbuh kembalinya, hasilnya ada banyak camping ground di atas gunung terkenal di Indonesia gundul alias kritis seperti Semeru, Merbabu dan Rinjani. Belum lagi diantara seribu tentu saja ada yang resek seperti dan merusak alam seperti menulis nama di pohon, buang sampah sembarangan dan sejenisnya.

camping ground merusak ekosistem dan lingkungan hidup Pendakian Gunung Massal

#2 Mencemari Lingkungan dan Buang Sampah

Sadar atau tidak, sangat banyak ditemukan pendaki gunung yang memiliki andil besar dalam mencemari lingkungan. Mungkin saja mereka melakukan tanpa niat atau sudah sebuah keharusan, namun hal ini tidak bisa dijadikan pembenaran untuk ikut merusak lingkungan ketika mendaki gunung.

Kurangnya pengetahuan dasar pendakian dan survival menjadi penyebab utama banyak pendaki gunung yang turut serta mencemari lingkungan, sebut saja jenis ransum yang dibawa ke gunung saat ini memang sudah berbagai macam dan mudah dibawa karena dibungkus dalam wadah sashet dari sana. Wadah ini lah yang terkadang kelupaan untuk dibawa pulang dan menumpuk menjadi sampah di atas gunung. Contohnya di Gunung Semeru pada Kalimati dekat camping ground ada tumpukan sampah yang sudah lebih besar dari tenda pengunjung.

mendaki gunung buang sampah di gunung Rinjani Mencemari Lingkungan dan Buang Sampah

#3 Bersikap Acuh tak Acuh

Sebuah sindiran dilakukan seorang pendaki asing yang turun dari Gunung Rinjani dengan membawa dua kantong besar sampah plastik yang tentu saja bukan sampah mereka, karena mereka sadar kalau alam itu harus dijaga agar tetap dapat dinikmati, namun kebanyakan pendaki lokal punya prinsip kalau konservasi itu sudah diatur oleh pemerintah sehingga menjadi tanggung jawab pihak-pihak tertentu saja. 

Hal tersebut tentu saja salah besar, karena konservasi adalah tugas semua orang bahkan bukan pendaki sekalipun. Hal yang sangat menjengkelkan adalah pengakuan kalau "dirinya hanya penikmat alam bukan pecinta alam jadi tugas konservasi tentu saja bukan tugasnya donk."

#4 Tempat Cabul dan Perbuatan Asusila Bebas Grebek

Sudah bukan rahasia lagi kalau saat ini banyak pasangan muda-mudi yang memilih gunung sebagai waktu berakhir pekan. Yah kondisi alam yang "bebas" tentu saja menyediakan celah bagi mereka untuk melampiaskan hal-hal yang mungkin saja sulit dilakukan di rumah atau di tempat kos yang memiliki banyak aturan.

Akhir-akhir ini banyak sekali pasangan pendaki gunung yang bareng naik gunung buat dijadikan tempat pacaran. Alasannya tidak lain karena Satpoll PP tidak ada, Pak RT pun tidak ada, jadi bisa sebebasnya. Bahkan tidak jarang mereka naik berdua dan hanya membawa satu tenda, jadi bisa merasakan hangatnya tubuh pacar yang harusnya didapatkan setelah menikah malah diberikan cuma-cuma dengan balasan mendaki gunung, itupun kadang nggak pernah sampai puncak beneran. Miris.

ciuman di atas gunung Tempat Cabul dan Perbuatan Asusila Bebas Grebek


#5 Melanggaran Batas Pendakian.

Batas pendakian yang paling sering dilanggar tentu saja batas pendakian Semeru. Karena batas pendakian gunung Semeru hanya sampai Kalimati dan ada banyak larangan yang dibuat oleh pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk tidak melanjutkan pendakian melewati Archopodo dan Kalimati. 

Larangan tersebut tersebut tentu saja dilakukan dengan banyak pertimbangan, bukan hanya pertimbangan keselamatan. Misalnya larangan mandi di Danai Ranu Kumbolo, karena Danau tersebut tidak hanya menjadi ekosistem alami bagi Ikan di sana tapi juga memiliki fungsi sebagai tempat mengambil air suci bagi agama Hindu di sekitar Tengger pada saat melakukan ritual keagamaan.
Loading...

0 Response to "5 Dosa Para Pendaki Gunung Abal-Abal yang Alay dan Harus Dihindari"