Para Perantau Sulawesi Selatan Mendirikan Kampung Bugis di Singapura


Para Perantau Sulawesi Selatan Mendirikan Kampung Bugis di Singapura

Dzargon. Suku bugis adalah salah suku yang dikenal dengan kemampuan merantau dan bertahan di tempat baru yang tinggi. Tidak heran jika suku bugis dapat dipastikan dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Salah satu penciri utama dari etnies Bugis adalah dialeg dan juga budaya yang khas sehingga determinasi dari lingkungan sangat mungkin di tekan ketika para perantau dari suku ini menetap di satu tempat.

Salah satu hal yng membuat suku bugis terkenal adalah perahu Pinishi yang telah berhasil membuat suku ini berpindah menyebrangi lautan yang luas sejak zaman dahulu. Perahu jenis Interseptor telah berhasil mendukung peristiwa migrasi suku bugis dari Sulawesi Selatan ke beberapa wilayah di Nusantara bahkan sampai ke Luar negeri seperti Singapura. Kisah Suku Bugis yang berada di Singapura telah menjadi bagian dari sejarah dari Singapura.

Para Perantau Sulawesi Selatan Mendirikan Kampung Bugis di Singapura terbaru wisata paling murah


Suku Bugis di Singapura.

Pada masa kejayaan Kerajaan Gowa pada abad 17,  Gowa di kenal sebagai kerajaan maritim terbesar di Nusantara dan juga menjadi pusat dari Bandar perdagangan di Indonesai bagian timur. Kebutuhan akan pegawai administrasi menjadi satu hal yang tidak terhindarkan. untuk menutupi kebutuhan tenaga Administrasi tersebut, banyak pegawai yang di datangkan dari Melayu dan Minangkabau. Imbasnya kekalahan kerajaan Gowa pada tahun 1669 membuat hampir semua penduduk di kerajaan Gowa termasuk para petugas administrasi hengkan dan pindah, tidak terkecuali ke daerah kekuasan Minangkabau.

Penaklukan kerajaan Gowa tidak luput dari bantuan kerajaan Bone yang merupakan salah satu kerajaan dengan penduduk Suku Bugis terbesar di Sulawesi Selatan. Kerajaan Bone yang menuntut kebebasan dari Kearajaan Gowa memanfaatkan situasi tersebut untuk membebaskan rakyatnya dan sejarah mencatatkan kemenangan berada pada aliansi Kapiten Jongker, Arung Palakka dan juga Spelman. 

Kemenangan di Sulawesi Selatan, membuat kepercayaan Belanda terhadap tentara suku Bugis meningkat. Para tentara bugis di bawah kepemimpinan Arung Palakka, kemudian diberi tugas untuk menaklukan perlawanan Jambi oleh Raja Johor. Kesuksesan kemudian berada di pihak Tentara bayaran dari suku bugis, namun sayangnya tentara Bugis mendapatkan penghianatan dari Raja Bohor. Tentar abugis yang merasa di hianati kemudian marah dan melakukan penaklukan kerajaan Johor secara membabi buta. Kemaraha suku Bugis yang merasa di Tipu ternyata berbuah petaka bagi kerajaan Johor dan berakhir dengan runtuhnya kerajaan Johor yang pada masa itu menguasai Singapura dan juga Riau. Runtuhnya kerajaan Johor disertai dengan tergesernya raja-raja Johor digantikan oleh sultan-sultan bugis hingga saat ini.

Sejarah mencatatkan terdapat 9 dari 13 kerajaan dari kesultanan Malaysia yang runtuh dan berada dibawah kekuasaan sultan Bugis termasuk Selangor hingga yang dipertuangkan di Malaysia. Penaklukan oleh orang-orang bugis di Malaysia juga ikut berpengaruh pada kekuasaan yang ada di Malaysia. Hal ini bertambah buruk di Singapura ketika Inggris datang dan menguasai Malaysia. Banyak dari Suku dan Etnis asli dari Singapura dibantai oleh suku Bugis di Singapura atas hasutan dari Inggris. Selain etnis asli Singapura, konon ada lebih dari 20.000 orang jawa yang merupakan pendapatangdi Singapura juga dibantai oleh suku bugis atas hasutan yang sama.

Hari ini, Kawasan Kallang, Singapura sudah sangat berkembang dengan pesat namun Kampung Bugis di kawasan Singapura tentu saja masih tetap hingga hari ini. Eksistensi dari suku bugis di Singapura bahkan sudah menjadi bagian negeri Singa Muntah ini, slaah satu buktinya terdapat sebuah jalan yang dikenal dengan nama "Kampong Bugis Street" dan juga terdapat sebuah distrik yang bernama Distrik Bugis yang menjadi pusat perdagangan di Singapura.

Pada kawasan Bugis, nama Bugis cukup terkenal dan sudah menjadi bagian dari Singapura, salah satunya Bugis Village, Bugis Square, Bugis Junction, dan juga Arab Stree. Sebuah masjid besar yang bernama "Sultan Mosque" juga berdiri dengan kokoh di tengah kota. Masjid ini di bangun oleh pengusaha Bugis yang sangat kaya pada masa tersebut, bahkan konon kawasan Geylang adalah kawasan yang dikuasai oleh orang-orang Bugis yang dijual.

Saat ini, Perkembangan Kampung Bugis ini mengalami pasang surut. Beberapa Kampung Bugis hanya tinggal nama. Penduduk di Kampung itu sudah berganti, perkampungan baru tidak lagi diberi nama Kampung Bugis, kecuali di Singapura ada real estate di Bugis Street menggunakan nama Bugis Junction. Negara Singapura tetap mengenang jasa-jasa saudagar Bugis, antara lain dengan tetap menggunakan gambar perahu Phinisi/Palari pada mata uang kertasnya. Bugis Street asli sekarang menjadi relatif, lebar jalan berbatu diapit bangunan dari Bugis Junction pertokoan. Di sisi lain, jalan saat ini disebut-sebut sebagai “Bugis Street” oleh Singapore Tourist Promotion Board sebenarnya dikembangkan dari New Bugis Street, dan adalah tagihan sebagai “jalan-lokasi perbelanjaan terbesar di Singapura”.

Namun dari sekian banyak etnis yang membentuk orang orang Melayu Singapura, tampaknya Bugis-lah yang paling besar pengaruhnya, sehingga diabadikan sebagai nama sebuah distrik terpenting di negara pulau itu. Tidak hanya nama ‘Bugis’, kawasan lain yang juga diambil dari Bugis adalah Sengkang. Di Singapura terdapat distrik Sengkang, yang diambil dari nama kota di Sulawesi Selatan, ibukota Kabupaten Wajo, yang merupakan salah satu daerah asal perantau perantau Bugis di Tanah Melayu. Kawasan Sengkang, kini sudah menjadi bagian dari modernisasi Singapura. Di Sengkang, berdiri Markas Besar kepolisian Singapura, kantor kantor pemerintahan, sekolah, hingga kawasan bisnis dan pusat perbelanjaan. Jika ada masa ke Singapura, silahkan datang ke Bugis dan Sengkang. Kawasan landmark, bukti kejayaan orang orang Bugis khususnya, dan Indonesia pada umumnya di Negara Jiran, Singapura.

0 Response to "Para Perantau Sulawesi Selatan Mendirikan Kampung Bugis di Singapura"