Header Ads

Perang Salib: Sejarah Perang Terbesar Dunia Abad Pertengahan

Perang Salib: Sejarah Perang Terbesar Dunia Abad Pertengahan

Dzargon. Perang Salib (Crusade ayau Crusader) adalah sebuah kampanye militer terbesar belndaskan agama yang disahkan oleh beberapa paus sejak rentang tahun 1096 sampai dengan 1487. Perang ini adalah perang terpanjang sepanjang masa dengan mengorbankan juta jiwa atas nama Agama. Perang salib terjadi di Jazirah Arab untuk memperebutkan kota Anatolia, Yerusalem dan juga Damaskus.

Perang salib dimulai sejak utusan seorang kaisar Bizantium Lexius I Komnennus mendatangi Pais Urbanus II untuk meminta restu serta dukungan militer anatar konflik kekaisaran Romawi Timur dengan bangsa Turki yang melakuakan migrasi ke Anatolia (Saat ini dikenal sebagai Turki). Paus menanggapi permohonan tersebut dengan memanggil seluruh umat katolik yang ada di dunia untuk bergabung dalam perang tersebut. Para prajurit yang bergabung dalam pasukan tersebut disebut tentara Salib (Crusader) dengan lambing Salib Merah di dada mereka.

Tujuan utama dari perang salib adalah memberikan jaminan bagi para peziarah ke tempat-tempat suci kaum katolik yang berada di bawah kekuasaan penguasa Muslim. Tujuan lain adalah menyatukan perpecahan yang terjadi di kubu Gereja sejak atahun 1054 dengan banyak cabang yang ada di timur dan juga wilayah barat serta memilih seorang kepala gereja untuk mempersatukan seluruh umat Kristen dalam satu panji. Hal inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya sebuah perjuangan yangsangat panjang selama 200 tahun di wilayah-wilayah seperti Anatolia, Yerusalem dan Damaskus.
Perang salib telah memanggil ribuan orang dari berbagai Negara dan kasta yang tersebar di Eropa untuk memenuhi panggilan Paus berjualan di jalan Salib. Seluruh prajurit yang bergabung kemudian disumpah di depan Publik dan menerima Indulgensi penuh dari pihak. Banyak petani eropa yang memenuhi panggilan Salib karena tujuan mendapatkan ilham dan Pengilahian dari Yerusalem. Bahkan Puas Urbanes mengeluarkan fatwa bahwa siapapun yang ikut dalam perang Salib akan mendapatkan pengampunan terhadap seluruh dosa yang telah diperbuat baik dosa besar maupun dosa kecil. Paus menganggap bahwa Perang salib adalah bukti kesetian dan bentuk pelayanan kepada Allah (Yesus) sebagaiamana pernyataan yang ia keluarkan yakni Keikutsertaan memenuhi panggilan salib adalah sebuah akewajiban Feodal dan memiliki kesempatan untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan politik. Pada kenyataannya kemenangan yang diperoleh oleh tentara salib tidak menguntuk Bizantium, melainkan memunuclkan banyak pemimpin baru yang merangkak dari bawah dan mendapatkan tanah yang luas di padang pasir.

Perang salib telah memicu pembunuhan banyak kaum Yahudi yang dikenal dengan peristiwa “pembantaian Rhineland”. Konstatinopel bahkan dijarah sampai keadaan yang sangat parah pada perang salib ke IV sehingga usaha awal penyatuan Kristen sebagai tujuan dari persang salib sangat mustahil untuk diwujudkan. Pengepungan tersebut membuat kekaisaran Bizantium menjadi lemah dan ahkirnya jatuh kepada kesultanan Ottoman pada tahun 1453 selaian itu para pemimpin bangsa eropa seperti perancis dan Inggris tidak memberikan tanggapan yang jelas atas kegagalan pertahan yang diberikan oleh Katolik sampai akhirnya Wilayah Akko jatuh pada tanggal 1291.

Tentara salib sebagai subjek utama dalam perang salib membawa banyak perubahan dan respon mulai dari pujian sampai pendapat yang mengatakan bahwa para tentara salib adalah sekumpulan orang tamak dan serakah. Dampak lain dari perang salib adalah terbukanya jalur perdagangan dan perjalanan di Laut Mediterania. Berkembangany kota Bandar Genoa dan juag Venesia. Para tentara salib melakukan perdagangan dengan penduduk lokal. Pada bidang keagamaan banyak kaisar Romawi yang menganut paham Ortodok akhirnya bekerja sama dengan Katolik dengan tujuan hak kelola pasar yang dipenuhi oleh tentara salib.

Seluruh perang salib menghasilkan cerita dan legenda panjang mengingat usia dari perang salib yang mencapai 4 abad lebih. Perang ini menjadi latar belakang terciptanya banyak roman, karya sastra dan juga filsafat di abad pertangehan. Perang salib menjadi penghubung yang baik antara kekuasaan militer, feodalisme serta paham katolik dari barat.
 
Crusade Perang Salib: Sejarah Kelam Perang Terbesar Dunia Abad Pertengahan

Terminologi Perang Salib

Perang Salib atau Crusade adalah sebuah istilah modern yang berasal dari bahasa Perancis yakni Croisade (di Spanyol disebut Cruzada). Pada tahun 1750 kata “Crusade” telah masuk dalam kamus Inggris, perancis dan jerman. Oxford English Dictionary memasukan kata Crusade atas prakarsa dari William Shenstone pada tahun 1757.

Seorang prajurit salib yang mengambil sumpah (Votus) untuk berangkat ke Yerusalem akan mendapatkan selembar kain salib merah yang dijahit kepakaian yang mereka kenakan sebagai bentuk dari “mengenakan Salib”. Tentara Salib menyebutnya sebagai sebuah perjalanan (Iter) atau Peregrinatio yakni ziarah ketempat suci dengan menggunakan senjata. Sebagaian orang yang tidak memiliki nasib baik di eropa kemudian mengikuti perang salib dengan tujuan perbaikan nasib yakni “Mesianise Kaum Miskin”. Banyak orang yang mengharapkan perubahan di Yerusalem, salah contoh yang paling baik adalah Baron of Ibelin.

Perang Salib berlangsung sangat panjang dan lama, sehingga sangat sulit untuk mebuat pengelompokan dari rentetan kejadian perang salib. Proses penomoran perang Salib bahkan menjadi bahan perdebatan yang panjang hingga hari ini. Beberapa sejarawan menyebut bahwa perang salib hanya terjadi sebanyak tujuh bagian besar sedangkan sejarawan yang lain menyatakan bahwa perang salib hanya berlangsung sekitar tahun 1096 sampai dengan 1291. Perdebatan yang paling pelik adalah perang salib ke V yang melibatka Frederik II kedalam dua perang salib, sehingga perang salib yang dipimpin oleh Louis IX pada tahun 1270 adalah perang salib kedelapan. Tidak cukup sampai disini, banyak sejarawan yang juga membagi perang salib ke delapa menjadi dua tahapan sehingga total ada Sembilan rentetan peristiwa perang salib.

Pandangan Pluralistik terhadap seluruh perang Salib yang mencakup secara keseluruhan kampanye militer dair Asia Barat sampau di Eropa di bawah restu dari Kepausan Roman (Katolik). Perbadaan perang salib dan perang agama Kristen lain adalah seluruh tentara salib berada dibawah pengesahan langsung dari Paus dan mereka mengadakan peperangan atas nama Kristus. Dasar pengambilan defenisis ini adalah pandangan yang ditunjukkan oleh Santi Bernardus dari Claivauz selaku Paus Gereka Katolik Roma yang memberikan prioritas utama dari seluruh kampany militer untuk melawan dan memberantas Paganisme dan Bidah. Defenisi yang lebih luas dari melawan Bidah adalah peberantasa kaum bidah di Perancis, serta konflik politik anatara umat Keristen di Sisilia, perlawanan kaum Kristen terhadap Iberia serta penaklukan kaum pagan di Baltik. Defenis yang lebih sempit dari Crusade adalah pandangan yang menyatakan bawha perang salib hanya sebatas perang pertahan diri di Levant terhadap serangan kaum muslim yang menguasai tanah suci Yerusallem.

Para Paus juga memiliki defenisi tersendiri mengenai perang salib yang sabai sarana penyeleisaian konflik terhadap kaum katolik Roma. Pengertian ini pertama kali dinyatakan oleh Paus Innosensius II kepada Markward von Anneweiler pada tahun 1202. PAus yang lain menyatakan bahwa perang salib adalah perlawanan kepada kaum Stingers, kemudian perang salib juga didefensisikan sebagai perang untuk melawan Frederik II dan Putranya dan juga perang yang ditujukan untuk melawan musuh raja Henry dari Inggris.

Suatu istilah melekat kepada kaum muslim adalah Saracen yang populer sebleum abad ke 16. Kata Muslim dan Islam sangat jarang digunakan oleh orang Eropa dan para pejuang Salib. Saracen diambil dari bahasa Yunani bagi bangsa arab yang mendiamai padang pasir dan gurun. “Saracen” kenbanyakan tinggal di daerah kekuasaan Romawi Arabia. Istilah berkembang dan digunakan cukup luas digunakan sampai abada ke-12 dan menjadi kata ganti bagi kaum muslim.

Penulisan Sejarah Perang Salib

Dalam rentang waktu masa Reformasi oleh kaum Kristen Protestan dan Kontra Reformasi yang terjadi di sekitar abad ke-16, Sejarawan memandang perang salib melalui kacamata dan keyakinan Religius tertentu. Protestan menganggap bahwa perang salib adalah suatu bentuk kejahatan yang dilakukan oleh Paus dan gereja Katolik yang menodai kebaikan Yesus. Para Protesta berpendapat bahwa Crusade adalah bentuk pemaksaan kekuatan dengan alasan kebaikan dan religious. Para sejarawan abad pertengahan justru memandang perang salib lebih realistis yakni menyatkan bahwa perang salib adalah upaya-upaya dari pemimpin barbar untuk menguasai tanah jajahan dengan mengandalkan fanatisme penganut Katolik Roma. Perbuahan drastic mengenai pandangan tentang Perang Salib terjadi Sejak awla Periode Romantik abad ke 19. Pandangan pada kahir abad ini lebih manusiawi dengan mengandalakan pemakluman sehingga hanya menekankan pada aspek-aspek khusus.

Pada masa renaissance (Sekitar abad ke-18) para sejarawan modern mengungkapkan kemarahan moral atas tindakan para prajurit salib tertutam dari golongan Templar. Tahun 1950, Steven Runciman membublikasikan sebuah tulisan dengan judul “Cita-cita yang tinggi ternoda oleh kekejaan dan keserakahan. Perang-perang suci tersebut tidak lebih dari suatu tindakan intoleransi atas nama Allah.” Pada Abad ke 20, tiga buah tulisan bersejarah yang menceritakanya posisi serta peran dan perang-peang salib yang ditulis oleh Runciman, Rene Grousset yang disunting oleh K.M. Stetton. Pada masa Perang salib terbagi atas dua tipe yakni sebuah upaya yang dipimpin oleh paus di Asia Barat dan Eropa, namuan Thomas Madden menyatakan bahwa “Perang salib yang paling utama adalah suatu perang yang dilakuakn kepada kaum muslim dengan membela iman Kristen”. Madden menganggap kaum muslimin sebagai penyebab dari perang berkepanjangan ini karena telah menaklukkan banyak wilayah-wilayah yang pada awalnya dikuasai oleh kaum Kristiani. Umat Kristen di wilayah timur harus bebas dari tekanan kaum Muslim.

Pasca kekalahan di Akko pada tahun 1921, dukungan Eropa untuk terus berjuang di perang Salib terus berdatangan meskipun pada kenyataannya banyak menimbulkan kritikan dari kalangan mereka sendiri. Salah satu kritikan yang paling pedas dating dari Roger Bacon yang menyatakan bahwa perang-perang yang terjadi di Aisa Barat tidaklah efektif. Labih jauh Riger menambahkan bahwa mereka yang bertahan hidup di wilayah perang salib tidak lebih dari tawanan yang berpindah tuan bahkan sebagai korban dari iman mereka terhadap Kristen.

Norman Davies menyatakan bahwa Ajaran Perang Salib sangat bertentangan dengan Perdamaian dan gencatan senajata yang dibwa oleh Yesus. Dukungan Paus Urbanus dianggap mengada-ngada dan dilator belakangi keinginan untuk menyebar agama dengan jalan paksaan, militerisme, dan feudalisme. Pembentukan kasta dalam militer bahkan mengejutkan kaum Bizantium Ortodoks yang pada awalanya meminta dukungan dari Paus. Para tentara Salib menajarah seluruh Negara yang mereka lalui dalam perjalan ke Timur serta melanggar sumpah untuk mengembalikan wilayah kekuasaan Bizantium setelah mendapatkan kemengan bahkan cenderung membagi-bagi kekuasaan. Perang dilakukan untuk mempertahankan wilayah untuk diri mereka sendiri.

Permulaan perang Salib Rakyat memprakarsai suatu program yang dilakukan oleh Rhineland dan ditandai kejadian keji yakni pembantaian orang yahudi yang ada di eropa oelh para Prajurit Salib. Selama abad ke-19 Perang salib dijadikan alat propaganda sejarawan Yahudi untuk mendukung Zionisme. Perang salib keempat bahkan memporakporandakan Konstatinopel sehingga upaya pemersatuan Katolik dan Ortodoks menjadi hal yang sangat mustahil. Dampak lebih buruk lagi terhadak dunia Kristiani adalah jatuhnya kekaisaran Bizantium ke tangan Ottoman. Perang Salib ke Empat diduga kuat adalah upaya yang dilakukan oleh Katolik untuk menghilangkan Ortodoks sehingga dengan sengaja melakukan strategi asal-asalan pada saat Konstatinopel diserang oleh Ottoman. David Nicolle bahkan menyebutkan bahwa perang Salib keempat adalah sebuah penghianatan atas kekuasa Bizantium dalam sebuah karya berjudul The History of the Decline and Fall of the Roman Empire Edward Gibbon.
Raja Inggris menunggang Kuda pada perang Salib di Asia Barat

Latar Belakang Terjadinya Perang Salib

Kekalahan kekaisaran Bizantium pada pertempuran Yarmuk pada tahun 636 membuat Palestina berada di bawah kekuauasan Kekhalifahan Umayyah, Abbsyiah dan Fatimiyah. Hubungan antara politik, Perdagangan dan Teloransi anatar Negara Kristen Eropa dan Kristen Arab mengalami pasang surut sampai pada tahun 1072. Perubahan yang besar juga dibawah oleh kekalahan Fatimiyah atas kendali pada daerah Palestina membuah Kekaisaran Seljuk Raya berkembang pesat. Meskipun Kalifah Fatimiyah Al-Hakim bi-Amr memerintahkan penghancuran Gereja Maka Kudus namun Penerusnya mengizinkan Kekaisaran Bizantium untuk membangun kembali Gereja tersebut. Para penguasa muslim mengizinkan ziarah yang dilakukan oleh Umat Katolik ke tempat-tempat suci umat Kristen. Orang-orang Kristen dianggap sebagai Dzimmi (orang Kristen yang tinggal di Negara Islam) dan orang Islam yang berkuasa tidak mempermasalahkan perkawinan beda agama. Budaya dan agama berbeda terbukti dapat hidup rukun dibawah kekuasaan Islam namun tidka demikian dengan daerha-daerah perbatasan. Gangguan bagi para peziarah sering kali dilakukan oleh bangsa Turk Seljuk. Hal ini menjadi pemicu prang salib oleh orang Eropa.

Kekaisaran Bizantium melakukan kesalahan yang parah di tengah ekspansi militer yang mereka lakukan pada awal abad ke-10 melalui Basilius II. Penaklukan demi penaklukan yang dilakukan tidak disertai dengan strategi mempertahankan kota yang ditaklukan dari masalah domestik sehingga terjadi pergulakan di dalam daerah-daerah tersebut. Hasil ini ditambah buruk dengan kemunduran pemimpin Bizantium sepeninggalan Basilius II. Tidak adalah satupun penerus Bizantium setelah Basilius yang mengerti strategi perang, militer dan juga bakat mengatur urusan politik. Tugas kekaisaran banyak diserahkan kepada urusan sipil dan akhirnya upaya-upaya ekonomi yang tidak teat menghasilkan inflasi. Dampak inflais ini kemudian merebak pada pembubaran Tetara Theeatik Bizantium kemudian digantikan dengan tentara Tagmata. Bangsa Turk Seljuk mendapatkan keuntungan dengan keadaan ini sehingga berhasil memenangkan perang Manzikert pada tahun 1071 dan berhasil menguasai Anatolia.

Upaya mengambil alih kekuasaan yang telah dikuasai oleh kaum muslim di Iberia yang telah dimulai sejak abad kedelapan mencapai titik balik setelah berhasil merebut Toledo pada tahin 1085. Kendati demikian Paus Urbanus II selalu membandingkan peperangan Iberia dan perang Salib Pertama yang berada dibawah pemaklumannya, namun status perang salib baru secara resmi didapatkan ketika Ensiklik Pasis Kallistus II pada tahun 1123. Pasca Ensklik paus yang menjabat menyatakan perang salib Iberia pada tahun 1147, 1193, 1197, 1210, 1212, 1221, dan 1229.

Perang salib memberikan banyak perubahan termasuk pada hak-hak tentara salib yang juga diberikan kepada ordo-ordo militer yang memabtu seperti Kstaria Templar dan juga Hospotaller, sedangkan Ordo-orod Iberian menyatu dengan orod Calatrava dan Ordo Santiago. Puncaknya pada tahun 1212 sampai 1265 tentara gabungan Kristen mendesak kaum muslimin sampai ke Keamiran Granada yakni daerah di semenanjung selatan.

Peluang untuk menjadi penguasa di negeri baru yang dibawa oleh perang Salib menghasilkan kebutaan akan kekuasaan. Paus merubah sistem kekuasaan dengan bentuk Monarki-Monarki Sekluar alat Barat dan kekiasaran Timur. Hal ini menyebabkan Kontroversi pada tahun 1075 dalam rentang perang salib pertama. Paus (kepausan) menciptakan sebuah sistem yang memakasa seseorang untuk ikut ambil bagian dari perang salib dengan janji Surga dengan berlandaskan aturan Agama yang ketat. Propadanda pengampuan Dosa dengan membunuh “Saracen” terbukti berhasil memanggil seluruh perhatian Eropa ke Asia Barat. Tujuan dari tidak lain adalah merebut kembali Palestina dari tangan Muslim. Di Eropa kecamuk ini jug aterjadi sampai ke Jerman di mana Robert Guiscard pada tahun 1072 berhasil menaklukan bangsa Slavia dan Sisilia karena terkonsentrasi pada kekuasaan di tanah Baru.

Kekaisaran Bizantium melalui KAisar Alexius I Komnenus meminta bantuan Militer kepada Paus Urbanus II berupa tentara bayaran Tagmata. Permintaan bantuan pada Konsili tahun 1095 bertujuan untuk memerangi kaum Turk Seljuk. Sebagai upaya dalam memuluskan permintaan bantuannya, Komnenus melakukan propaganda dengan menjelasakan bahwa ada bahaya yang dating dari timur jika kekuasaan turk Seljuk tetap dibiarkan berkembang. Komnenus meyakinkan Paus keberhasilan menembus Asia Barat akan disusul dengan menembus Eropa jika kekuasaan Muslim tetap dibiarkan.
Usaha Komnenus membuahan hasil dalam pertemuan yang terjadi pada tanggal 27 November 1095. 300 Klerus Perancis dalam konsili Cleront menjadi saksi Pidato Paus mengenai perjuangan Kekaisaran Romawi Arabia (Bizantium) melawan kaum muslim adalah perang agama yang bernilai penebusan dosa. Dalam pidato tersebut paling tidak adal lima sumber informasi yang dijadikan landasan yakni:

  1. Gesta Francorum (perbuatan-Perbuatan Bansga Franka) pada tahun 1100-1101. Sebuah karya Anonim
  2. Fulcher dari Charter yakni seorang Imam dari Konsili Cleront
  3. Robert sang Rahib
  4. Baldric, seorang Usukup Agung Dol dan
  5. Guibert dari Noegnt
Dalam sebuah catatan sejarah, Historia Ilherosolimitana adalah sebuah karya dipublikasikan pada tahun 1106 sampai dengan 1107, Robert sang Rahib meriwayatkan bahwa Paus Urbanus II meminta umat Kristen dari Barat untuk membantu Kekaisaran Bizantium karena Allah Menghendakinya atau “deus Vult” serta janji berupa pengampuan dosa bagi para mengikut jalan salib, sedangkan pada sumber catatan lain bayaran bagi bagi para Crusadde adalah Indulgensi.

Puas menyatakan bahwa upaya merebut Tanah Suci Yerusalem bukan sekedar memberikan bantuan kepada kekaisaran Binzantium melainkan membalas pelanggran-pelanggaran yang mengerikan yang dilakukan oleh umat Muslim. Propaganda perang salib kemudian disebarluaskan di Perancis dengan propaganda bahwa “yang mendari di Flarinda” bahwa bangsa Turk telain telah merobohkan gereja-gereja Allah di wilayah timur dan jauh dari pada itu mereka telah merebut kota Suci Kristus yang telah dihiasi kesengsaraan atas kebangkitannya. Dalam tulisan tersebut Paus tidak menuliskan kebenaran Perang Salib Secara Eksplisit untuk menaklukan kembali Yerusalem tetapi menggunakan kalimat menyerukan “pembebasa” militer atas gereja-gereja di Tumur dan menunjukan Adhemar dari Le Puy sebagai panglima perang salib pada saat tanggal 15 Agustus atau peringatan pengantan Maria ke Surga.

Perang Salib Pertama (Perang Salib I) Serta Dampaknya.

Perang salib pertama diprakarsai oleh respon Paus Urbanus II di Roma terhadap utusan dari Kaisar Bizantium Alexius I, Seorang penguasa Konstatinopel. Permohonan untuk meminta bantuan darurat dari kaum Kristen di Barat dalam bentuk perang salib agar jalur Peziarah dapat diamankan. Paul Everest Pierson menjelasakan lebih spesifik tujuan lain dari Permohonan tersebut adalah adanya harapan dari tentara salib agar supaya menyatukan kembali Gereja-Gereja di Timur di bawah pimpinan kekaisaran Bizantium.

Peter sang Pertapa yang mendengarkan Khutbah dari Paus Urbanus akhirnya memimpin sekitar 20.000 orang yang sebagian besar Petani menuju Tanah Suci pada saat Paskah 1096. Tentara ini memulai huru-hara pertama mereka dengan melakukan pembataian besar-besaran di Jerman pada musim Semi 1096. Kota-kota yang menjadi korban adalah Speyer, Worms, Mainz dan juga Cologne, meskipun para Uskup telah berupaya melindungi orang-orang Yahudi di Jerman.

Gerakan awal dari perang salib ditandai dengan aktivitas Anti Yahudi yang dipimpin oleh Emicho dan Peter sang Pertapa. Pergerakan ini diawali dari serangan membabi buta pada komunitas-komunitas yahudi sampai dengan gerakan Militer yang menyebakan kematian orang-orang Yahudi di Mainz dan Cologne. Gerakan ini adalah gerakan Anti Yahudi terbesar pertama di Eropa. Peter sang Pertapa kemudian bernjak dari Jerman menuju Asia Barat.

Kedatangan kelompok Peter sang Pertapa dan “kemenangan” di Jerman membakar semangat para prajurit sehingga desakan Kaisar Alexius untuk menunggu para bangsawan dari Barat tidak diindahkan. Tentara Peter sang Pertapa akhirnya terjerambat dalam perangkap bangsa Truk di Kota Nicea dan Kalah telak. Pada kejadian terdapa 3.000 tentara yang berhasil melarikan diri.

Bala tentara Salib resmi kemudian berangkat dari Peranci dan Italia pada bulan Agustus dan Sepetember di tahaun 1096. Psaukan-pasukan besar dibagi dalam empat bagian dengan perjalan terpisah ke pusat Kekaisaran Bizantium di Konstatinopel. Tidak ada jumlah pasti dari tentara tersebut namun menurut perkiraan paling tidka ada 100.000 tentara yang bergerak ke Konstatinopel melalui arah arah timur dari Eropa.  Jumlah yang sangat besar dan kekalahan awal Peter sang Pertapa menjadi sinyal kehati-hatian dari pergerakan tentara Salib Pertama ke Bizantium.

Psaukan utama yakni para Ksatria berkuda kebanyakan terdiri dari Kesatria Norman dan Perancis dibawah panji para Baron. Mereka berjanji akan mengembalikan Wilayah-wilayah yang hilang dari kekaisaran Bizantium dan berangkat menuju Anatolia. Para pemimpin perang Salib pertama dipimpin oleh para tokoh seperti Godfrey dari Bouillon, Tancred dari Hauteville, Baudouin dari Bologna, Robert Curthose, Hugues I dari Vermandois, Bohemond dari Taranto, Robert II dari Flandria, dan √Čtienne, Comte Blois. Raja Perancis dan Heinrich IV. Kaisar Romawi yang suci tidak ikut dalam perang tersebut karena terlibat sebuah konflik dengan Paus.

Bala tentara awal Salib melakukan perang pertama dengan bangsa turki dalam sebuah pengepungan di Antiokhia. Pengepungan yang berlangsung cukup lama yakni sejak Oktober 1097 sampa dengan Juni 1098. Pada akhirnya tentara salib pertama berhasil merebut Antiokia, seluruh penduduk Muslim yang hidup di dalam Kota dibantai, namun sejumlah besar pasukan Muslim yang berada dibawah panglima Kerboga segera mengepung Kota Antiokhia pada saat para tentara Salib masih berada di dalam Kota.

Pada peristiwa pengepungan, Bohemond dari Toronto berhasil mengumpulkan kekuatan dan mengalahkan Kerboga pada tanggal 28 Juni. Startegi jitu dalam perang membuat Bohemond tetap berhasil memegang kendali atas kota Antiokhia. Alih-alih mengembalikan kota tersebut ke kekaisaran Bizantium, Bohemond malah menguasai kota dengan tidak mengindahkan janjinya untuk mengembalikan kekuasan ke tangan Bizantium. Sisa dari tentara Salib kemudian bergerak kea rah selatan, berpindah dari satu ke kota lainnya disepanjang pesisir kota kemudian tiba di yerusalem pada tanggal 7 Juni 1099. Jumlah pada saat sampai di Yerusalem sangat sedikit jauh dari lebih sedikit dari jumlah awal dari prajurit Salib pertama.

“Menyambut kedatangan Pasukan Salib”, Kaum Muslim dan Yahudi kemudian bekerja sama mempertahankan Yerusalem dair Invasi yang dilakukan oleh kaum Franka, namun tetntara salib berhasil masuk dan menguasai kota dalam pengepungan yang berakhir pada tanggal 15 Juli 1099. Tentara salib yang berhasil menguasai kota kemudian melakukan pembantaian penduduk Sipil yang beragama Muslim dan Yahudi serta menghancurkan seluruh Masjid yang ada di dalam Kota.

Histori Francorum qui ceperunt Iherusalem karya Raymond D’Aguilers memberikan pujian atas tindakan tersebu namun pada pandangan dunia modern perilaku tersebut sangat tidak terpuji. Dampak dari kemenangan tentara Salib Pertama adalah lahirnya 4 negara Salib yakni Edessa, Antiokhia, Tripoli dan Yerusallem. Selain dari Kaum Yahudi dan Muslim, Para pemenang perang salib pertama juga melakukan penyiksaan dan pembataian yang kejam terhadap kaum Kristen Ortodoks “skismatik” dari Timur. Setelah perang salib pertama selesain, Perang Salib kedua berlangusng dengan kekalahan di Pihak Kristen dimana Bangsa Turk berhasil memenangkan pertarungan dibawah pimpinan Kilij Arslan I. dan berakir pada tahun 1101.

Perang Salib Abad ke 12.

Pada permulaan abad ke 12, prakti dari perang salib dalam skala kecil terjadi hamper disetiap daerah di wilayah Asia Barat. Paus Kallistus memaklumkan kejadian pernag salib di Venesia yang berlangsung dari tahun 1122 sampai dengan 1124. Foulques V, Cote Anjou yang berkunjung pada tahun 1120 dan 1129 bersama dengan Konrad II dari Jerman pada tahun 1124 memekasa Paus Honorius mengakui keberadaan Kstaria Templar. Paus Innosensius II  kemudian memberikan Indulgensi pada tahun 1135 kepada bagi mereka yang ikut dalam perang menentang musuh-mush paus dianggap oleh sebagain besar kerajaan adalah awal mula perang Salib berlatar belakang Politik. Akibatnya Negara-negara salib yang aman akhirnya direbut oleh Imad ad-Din Zengi yang dipilih sebagai gubernur Mosul pada tahun 1127, kemudian merebut Allepo pada tahun 1128 dan kembali merebut Edessa (urfa) tahun 1144. Kekalahan ini menyababkan Paus Eugenius III menyerukan kembali panggilan perang Salib pada tanggal 1 Maret 1145. Perang salib ini di dukung oleh banyak Pengkhutbah seperti Bernardus dari Clairvaux. Pasukan-pasukan dari Perancis dan Jerman dibawah pimpinan Raja Lousi VII dan Konrad II bergerak maju menuju Yerusaalem dan tiba pada tahun 1147. Mereka melakukan pengepungan di Damaskus akan tetapi gagal meraih satu kemengan penting. Disisi lain, kelompok besar tentara salib dari Eropa tertahan di Portugal kemudian bersekutu dengan Raja Portugal yakni Alfonso I untuk merebut kembali Lisbon dari tangan Muslim pada tahun 1147. Sebuah datasemen dari kelompok tentara Salib kemudian memberikan bantuan kepada Comte Ramon Berenguer IV dari Barcelona dalam upaya menaklukan kota Tortosa pad atahun 1148.

Pada tahun 1150, Raja perancis dan jerman kembali ke Eropa tapa perubahan yang berarti dari Tanah Suci. Bernardus dari Clairvaux kemudian meberikan Khutbah yang mendukung keikutsertaan perang salib kedua. Dalam khutbah tersebut, Bernardus dari Clairvaux juga menyampaikan kekecewaan terhadap pembataian kaum Yahudi di Rhibeland. Sebuah ziarah bersenjata yang dilakukan oleh Heinrich si Singa, yang merupakan adipati Sachen dianggap sebagai perang salib, serta pada saat yang sama bangsa Saxon dan Dane bersatu melawan Wend dalam perang Salib. Pada perang ini, Dane kalah telak karena bangsa Saxon dianggap tidak memberikan bantuan yang berarti dalam perang tersebut.

Perang salib terus berlanjut dalam skala kecil meskipun tidak ada restu dan perintah resmi dari Paus untuk melakukan perang. Heinrich sendiri kembali menyerang kaum Wend pada tahun 1160 dan baru merasakan kemenangan pada tahun 1162. Sebuah guncangan besar muncul mengalahkan dominiasi prajurit salib dating dari timur melalui seorang pemimpin bernama Salahuddin Al Ayyubi (Saladin).

Saladin berhasil membangun suatu kesatuan opsisi yang meberi ancaman nyata pada pemimpin-pemimpin dengara alatin. Kemenagan pertama di Hattin, Salahuddin berhasil mengalahkan kekuatan tentara salib yang tercerai berai pada tahun 1187. Kebrhasilan lain adlah berhasil mengambil alaih Yerusallem yang pada saat berada di tangan pemimpin yang dungu Guy de Lusignon pada yanggal 2 September 1187. Balian berhasil memaksa Salahuddin untuk melakukan perjanjian gencatan senjata di Yerusalem sehingga Saladin memberikan jaminan keselematan kepada seluruh umat Katolik untuk meninggalkan Yerusalem sampai di Pelabuhan. Mendengar kabar yang sangat menyedihkan bagi Katolik, Paus Urbanus II meninggal dunia pada tanggal 19 Oktober 1187. Suksesor Paus Urbanus II, yakni Paus Gregorius VII kemudian mengeluarkan sebuah Bulla kepausan yakni Auditia tremendi yang memberikan Isyarat agar Perang Salib ke Tiga dilaksanakan. Tig apemimpin besar Eropa yakni Kaisar Friedrich Romawi Suci, King Richard I dari Inggris dan Philipe II dari Perancis keudian berangkat ke Yerusalem untuk merebut kembali kota dari tangan Saladin.

Perang Hattin dimenangkan oleh Umat Islam karena Kebodohan Umat Kristen yang memaksa menghalau bala tentara Islam dari Damaskus Kerak dan Ibelin

Naas bagi Friedrich yang wafat di perjalanan menuju Yerusallem dengan sejumlah besar pasukan berhasil sampai, namun terjadi konflik politik antara Inggris dan Peranciis yang menyebabkan Philipe kembali ke Perancis dan meninggalkan sebagian besar pasukannnya. King Richard akhirnya bergerak sendiri sebagai pemimpin Cruader dan malah menaklukan Siprus dari kaum Bizantium apada tahun 1191 karena suadarinya ditawan oleh Isaakius Komnenos. Setelah menaklukkan Siprus, King Richard merebut Akko dan menyusur bagian Selatan laut Mediterania kemudian mengalahkan pasukan Muslim dari Arsuf. Kemenangan ini berhasil merebut kemabli pelabuhan Yafo. Setibanyanya Di Yerusalem jumlah prajurit  yang tersisa tinggal sedikit sehingga tidak cukup kuat untuk menaklukan Yerusalem. Richard kemudian meninggalkan Yerusalem tahun berikutnya dengan beberapa perjanjian dengan Saladin.

Salah satu perjanjian tersebut adalah mengizinkan kaum Katolik Roman yang tidak ersenjata untuk melakukan ziarah ke Yerusalem dan izin berdagang bagia siapa saja. Disisn lain Hienrich VI, Kaisar Romawi Suci, memulai jalan Salib di Jerman pada tahun 1197 sebagai bentuk pemenuhan Janji kepada ayahnya Frierich. Perjalana Hienrich VI yang menunjuk Konrad dari Wittelsbach sebagai pemimpin berhasil merebut Sidon dan Beirut namun kematian Hienrich membuat sebagaian besar tentara salib kembali ke Jerman.

No comments