Header Ads

Sejarah Perang Salib Kedua : Paus egenius III dan Salahuddin al ayyubi (saladin)

Sejarah Perang Salib Kedua : Paus egenius III dan Salahuddin al ayyubi (saladin)

Dzargon. Perang Salib II terjadi pada rentang tahun 1145 sampai dengan tahun 1149. Perang salib pertama yang dipimpin langsung oleh raja-raja dari Eropa seperti Inggris dan Perancis. Penyebab utama dari perang ini adalah jatuhnya County Edessa pada tahun 1144. Eddesa merupakan sebuah negara dari 4 negara salib yang didirikan pasca kemenangan pada perang salib pertama. Negara ini didirikan pada tahun 1095-1099 dan juga negara pertama yang runtuh akibat serang dari tentara Muslim. 

Perang salib ditandai dengan maklumat yang dilakukan oleh Paus Egenius III yang yang berada dibawah pimpinan Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman. Berang ini berlangsung dari bantuan bangsawan Eropa (Noblemant) lainnya. Gelombang prajurit perang salib bergerak dari eropa menuju Yerusalem melalui dua rute. Rute akibat terhalang dari kaisar Romawi Timur, Manuel I Comnenus yang kecewa akibat dari perang salib pertama. Rute yang dilalui melewati Bizantium lalu masuk melewati Anatolia. Persiapan yang kurang matang dan sentiment dari kaisar Romawi Timur membuat pasukan dari kedua raja tersebut diporakporandakan oleh kaum Muslim Seljuk beruntung Louis, Conrad dan beberapa pasukan yang berhasil bertahan hidup mampu masuk ke Yerusalem kemudian melancarkan serangan yang keliru ke Damaskus pada tahun 1148. Perang ini mengakibatkan Yerusalem jatuh ke tangan Muslim dan menjadi pemicu terjadinya perang salib ke-3 pada abad 12.

Tentara salib keudian menggapai kemenangan setelah membentuk aliansi dari tentara Frisia, Noemandia, Flarinda, Inggris, Jerman dan Skotlandia. Tentara gabungan ini kmeudia berlayar menuju Tanah Suci kemudian berhenti di Lisbao untuk membantu bangsa portugi merebut Lisbao pada tahun 1147. Perang salib pada bagian utara kemudian dikobarkan untuk melakukan kristenisasi pada kaum Pagan.

Latar Belakang Terjadinya Perang Salib II

Dampak dari Perang Salib pertama hampir merubah tatanan dunia di daerah Arab apalagi dengan berdirinya negara-negara Salib pasca penaklukan Yerusalem dan Konstatinopel. Tiga negara yakni Kerajaan Yerusalem, Kepangeranan Antiokhia dan County Edessa. Ketiga negera ini didirikan pada tahun 1109. Edesa merupakan negara yang paling rentang dengan posisi berada di daerah paling utara dengan jumlah penduduk paling kecil. Posisi yang yang tidak menguntungkan dan kekuatan militer yang tidak begitu baik membuat Eddesa menjadi sasaran pertama negara-negara Muslim seperi Otoqid, Seljuk dan Danismend. Kekalahan pasca perang Harran pada tahun 1104 menyebabkan Courtenay dan Baldwin II tertangkap lalu kemudian tertangkap lagi pada tahun 1122. Kekuatan pesekutuan ketiag negara tersebut mampu membuat eddesa kembali pulih pada tahun 1125 akan tetapi Joscelin tewas pada tahun 1131. 

Posisi yang paling Edessa yang paling dekat dengan Konstatinopel membuat negara ini harus bekerja sama dengan Kekaiasaran Romawi Timur, meskipun faktanya Edessaadalah salah satu kerajaan yang dicaplok dari Romawi Timur ketika perang salib I selesai. Penyebab lain adalah pertengkaran dengan Pangeran Antikhia dan juag Count Tripoli membuat Edesa kehilangan aliansi terkuat pada perang salib I.

Zengi, seorang Atabeg dari Mosul berhasil merebut Aleppo ditengah kisruh di dunia Negara-negara Salib, kejatuhan Alepo pada tahun 1128 menjadi kunci dari kekuatan militer di Suriah. Raja Baldwin II kemudan mengalihkan perhatian ke arah damaskus yang berada di tangan Dinasti Burid namun Baldwin II berhasil ditaklukkan di luar Benteng. 

Pada akhir tahun 1144, Joscelin II membentuk aliansi bersama Ortoqid. Aliansi kemudian menyerang Edessa dengan kekuatan penuh. Zengi berhasil memanfaatkan kematian Fulk pada tahunn 1143 akhirnya berhasil meraih kemengan di Edessa pada tanggal 24 Desember 1144. BAntuan yang dikirim oleh Yerusalem yakni Manasses dan Philip Milly terlambat dan tiba pada saat Jescelin II berusaha menguasai sisa Wilayah Eddesa dan Turbessel. Wilayah yang tersisa dari Edessa kemudian dijual ke kekaisaran Bizantium. 

Kemengan di Edessa membuat Zengi dipercaya sebagai pelindung dan menjadil al-Malik al-Mansur sebagai raja. Zengi tidak menyerang sisa daerah dari Edessa yang belum dikuasai. Peristiwa Mosul memaksa pasukan ini untuk kembali memberika bantuan ke Damaskus. Seorang budak berhasil dibayar oleh kaum Kristian dan mamu membunuh Zengi. Sepeninggalan Zengi, Nuruddin anak dari Zengi menggantikan posisinya. Mengetahui kematian Zengi, Joscelin kemudian berusaha merebut kembali Edessa namun naas, Nuruddin jauh lebih unggul kemudian Joscelin terbunuh pada November 1146.

Rekasi Barat terhadapan Kejatuhan Edessa.

Ketika kembali dari Yerusalem, Para Peziarah kemudian membawa berita ke Eropa pada tahun 1145 kemudian rumor berkembang di Eropa. Untuk meberikan informasi yang jelas, duta Besar dari Antikhia, Armenia, dan Yerusalem kemudian melaporakan berita ini secar aresmi Ke Paus Eugenius II. Bersamaan dengan berita ini Paus Eugenius kemudian mengeluarkan kepausan quantum praedecessores pada tanggal 1 desember 1145. Isi dari maklumat ini tidka lain untuk segera membentuk pasukan Salib II dan menyatakan perang dengan Muslim. Paus juga mengirim seorang utusan ke Kristen Timur untuk meberikan bantuan kepada para tentara Salib selama berperang.

Perbedaan perang Salib I dan dan kedua teridir dari pempimpin-pemimpin pasukan salib yang terdiri dari pada raja dan bangsawan eropa. Kedua raja negara besar seperti Inggris dan Perancis memberikan harapan besar bagi kaum Katolik, namun perpecahan pasca keberangkatan sudha mulai terlihat. Loius VII dari perancis mengutarakan maksudnya untuk melakukan ziarah bersenjata ke Yerusalem tanpa ada campur tangan dari Paus. Pidato ini disampaikan di Borges pada tahun 1145. Sampai hari ini belum jelas maksud dan tujuan Louis VII melakukan hal tersebut namun dua pendapat yang paling kuat kemungkinan disebabkan oleh Janji atas kematian saudaranya, Philip atau ingin menginvasi Yerusalem dan menguasainya sendiri. Tingkah dari Louis VII kemudian mendapatkan cibiran dan banyak yang tidak senang terutama dari kepala Biara Suger dan kaum bangsawan lainnya. Louis VII kemudian menanggapi respon ini dengan mberkunjung ke Paus Eugenius. Setelah pertemuan tersebut, Eugenius kemudian meberikan dukungan penuh terhadap Louis VII untuk memulai perang salibnya.

Khotbah Bernardus dari Clairvaux

Bernadus diberikan kesempatan berkhotbah untuk melangsungkan perang Salib II dan meberikan Indulgensi seperti halnya yang telah dilakukan oleh Paus Urbanus II pada perang salib pertama. Di Burgundi, Vezelay pada tahun 1146, Bernaus kemudan menyampaikan Khotbahnya pada tanggal 31 maret, Louis VII dari Perancis, istri Louis AliĆ©nor dari Aquitania, para pangeran dan pimimpin yang hadir kemudan bersujud dibawah Kaki Bernauds dan mendapatkan Salib Peziarah. Selain dair Louis, Conrad II dari Jerman dan Frederick Barbarossa kemudian juga nepdatkan salib yang sama, Bernadus kemudian berangkat ke Jerman. 

Perang Salib Kedua dan Louis lukisan perang Perang Salib VII


Bernadus terkesan lebih cerdas dan pandai berbicara, ia kemudian berkhotbah tanpa adanya kata-kata intimidasi yang dikeluarkan kepada kaum Yahudi seperti yang dilakukan oleh Paus Urbenus II. Khotbah pendeta fanatic dari Perancis yakni Rudolf menyebakan pembataian besar-besaran kaum Yahudi di Rhineland, Cologne, Mainz, Worms, dan Speyer. Rudolf menyatakan bahwa kaum Yahudi enggan dan bahkan tidka memberikan bantuan untuk membebaska Yerusalem. Bernadus menentang pernytaan tersebut dan berjlana mengumpulkan massa dari Flarinda ke Jerman untuk menenangkan massa. 

Perang Salib di Wend

Seruan Perang Salib Kedua membuat sebagain besar orang-orang di Jerman selatan bergabung dengan sukarelawan untuk menjadi tentara Salib, namun tidak demikian dengan orang-orang Jerman uatar. Pada saat pembahasan perang salib II di Frankurt tanggal 13 Maret tahun 1147, orang-orang Sacehn menyampaikan ke pada santo Bernaus bahwa bangsa Salvia merupakan musuh yang harus lebih dulu taklukan dibandingkan memperjuangkan sejengkal tanah di tanah Arab. Menanggapi masalah ini, Paus kemudian mengeluarkan Divina dispensation yang menyatakan bahwa perang melawan Sachen juga perang Salib dan tidak perbedaan nilai spiritual anatar perang di Arab dan juga perang melawan Sachen. Dampak dari Divine Dispensatione ini membuang Denmark, Polandia dan Sachen bersatu untuk melawan bangsa Salvia. Paus Anselm dair Haveberg kemudian diberi wewenang untuk memegang kekuasaan secara keseluruhan dari kampanye militer ini.

Obotrit kemudian menyerang Wagria pada tahun 1147 karena kecewa dengan partisipasi Jerman pada perang salib yang lebih memilih menyerang Slavia. Tentara salib berhasil mengusir Obotrit dari Dobin dan benteng Luitizia di Demmin. Wilayah luar kota dan benteng tidak dihancurkan dengan semangat bahwa bangsa Sachen memiliki darah yang sama dengan darah yang sama dengan para tentara Salib. Sachen yang berada di bawang kekuasaan Henry the Lion kemudan meundur meninggalkan kota dan kahirnya Tentara Salib dialihkan untuk menyerang kota Pomeriania. Kesepakatan di Kota Kristen Stettin yang tercapai membuat tentara Salib tidak diperlukan di Eropa kemudian dibubarkan. 

Bernadus berkilah bahwa tujuan dari perang Salib ini untuk melawan kaum Pagan agar mereka disingkirkan oleh tuhan atau mendapatkan ilham untuk berpindah agama, namun perang ini gagal membuat orang-orang Wend pindah Agama. Sachen menemukan kaum Slavia kembali ke Agama mereka yakni Pagan. Albert dari Pomerania kemudian menjelaskan bahwa Agama ini lebih baik disampaikan dengan pengajaran bukan dengan senjata. Damapk akhirn dari perang salib di Wend mengakibatkan depopulasi dengan banyaknya pembataian yang dilakukan oleh tentara Salib di Wend. Penduduk Slavia gagal dalm berporduksi dan memperbaiki sistem kehidupan social sehingga kedepannya tidak ada lagi perlawanan dari bangsa Slavia.

Ilustrasi Kekuatan Perang Pasukan Saladin dari Damaskus

Runtuhnya Lisbao dan Reconquista

Musim semi tahun 1147, Daerah sasaran peran salib diperluas hingga semenanjung Siberia dibawah perintah Paus. Alnfonso VII dari Leon kemudian diberi tugas untuk malukan kampanye militer untuk melawan Moor pada perang salib II. Kontingen Pertama dala perang salib II diberangkatkan dari Darmounth di INggris menuju ke Yerusalem melalui jalur laut di laut tengah. Gelomabng yang sangat besar dan cuaca buruk membuat kapal pengangkut tidak bisa meneruskan perjalanan dan memaksa mereka berhenti dipelabuhan Porto pada Juni tanggal 16 tahun 1147. Di Porto pasukan Salib dibujuk agar mau melakukan pertemuan dengan Afonso I dari Portugal.

Dalam pertemuan tersebut, Tentara Salib menunjukkan kesepakatan membantu raja Alfonso yang menaklukkan Lisbao. Gabungan tentara Salib II dan tentara kerajaan Portugal berhasil mengepung Lisbao 1 Juli sampai dengan 25 Oktober tahun 1147. Pengepungan yang berlangsung hampir 4 bulan membuat Pemimpin dan Prajurit Moor kelaparan dan harus menyerah karena kelaparan. Pasca perang dengan Moor beberapa tentara Salib menetap di Lisbao dan sisanya melanjutkan perjalanan ke Yerusalem. Sebelum mencapai Yerusalem, beberapa kelompok juga berjalan dengan target merebut Santarem ditahun yang sama. Tentara Salib berhasil mengasai Almda, Setubal, Sintra, dan Palmerla. Pada daerah ini mereka mulai menetap dan menghasilkan keturuanan.

Di Semenanjung Iberia lian, pada waktu yang sama Alfonso VII dari Leon, Ramon Berenguer IV dan beberapa bangsawan dari Eropa lain memimpin kelompok tentara salib II dari Peranci dan Cataluna untuk menaklukkan pelabuhan Alemria. Dukungan dari angkatan Genova-Pisa membuat kemenengan berada di tangan Tentara Salib dan menguasai pelabuhan pada Oktober 1147. Disisi lain, Valencia dan Murcia kemudan ditaklukkan oleh Ramon Berenger pada desemeber 1148 kemudan merebut Tortosa selama lima bulan pengepungan dengan bantuan dari pasukan Genova dan pasukan tentara salib. Satu tahun kemudian, Fraga, Leida dan Mequinenza juga jatuh ditangan Ramon Berenger.
Perang Salib di Timur

Pasca kematian Zengi yang yang menaklukkan Edessa, Joscelim mencoba untuk mengambil alih kota dari Nuruddin suksesor dari Zengi, akan tetapi usaha ini gagal dan pada November 1146 Joscelin mati terbunuh oelh pasukan Nuruddin. Tentara Salib erancis kemudan melakukan pertemuan di Etempes untuk membahas rute perjalan yang akan dilalui. Pasukan Jerman memutuskan untuk melewati jalur Hongaria karena permusuhan dengan Roger II yang merupakan raja dari Sisilia juga musuh dari Conrad II.

Pasukan Perancis menghindari rute yang melalui daerah kekuasaan Romawi Timur karena sejarah yang dilakukan oleh pasukan salib pertama yang mencaplok kekuasan Bizantium dan mendirikan negara sendiri. Meskipun demikian tidak ada pilihan selain mengikuti Conrad II dari Jerman dan memilih jalur darat. Roger II menolak untuk bergabungdengan pasukan salib karena unsur ketersinggungan disisi lain Kepala Biara Suger yang dipilih sebagai Wali raja Sementara menyususl ke Yerusalem untuk ikut dalam tentara salib. Posisi agen propaganda kemudian dilakukan oleh adam dari Ebrach dan Otto daro Freising di Jerman. Pada tanggal 13 aret, Frederick putra dari Conrad terpilih menjadi pengganti ayahnya dan dilantik di Frankfurt. Frederick terpilih menjadi raja dibawah perwalian Henry dan Uskup Kepala Mainz. Jerman kemudian menunda keberangkatan hingga bulan Mei yang awalnya direcanakan pada hari Paskah.

Rute tentara Salib Eropa ke Yerusallem

Keadaan politik di Eropa dan hubungan antara raja Penguasa yang pro Salib dan Pro Romawi Timur mengalami perpecahan setelah dinodai oleh aksi penguasana lahan dari Pasukan Salib I. Rute perjalan dari Eropa ke Yerusalem menjadi sangat sulit karena beberapa wilayah merupakan wilayah yang tidak bersahabat dan rombongan yang heterogen juga membuat masalah rute menjadi masalah yang penting. Pemlihan rute adalah salah satu factor penting perihal jumlah kekuatan di ketika sampai di Yerusalem.

siapa Benerdus pawang perang salib yang dilaknat mari basmi peperangan


Rute Tentara Salib dari Jerman.

Tentara Salib dari Jerman yang terdiri dari Bayern, Swabia dan Franconia meninggalkan Jerman pada tanggal Mei 1147. Pasukan pimpinan Ottokar II dari Styria kemudian bergabung dengan kelompok Conrad di Wina. Lawan politik Conrad, Geza II dari Hongaria kemudian mebiarkan pasukan tersebut melewati wilayah kekuasaan. Sebanyak 20.000 pasukan Jerman akhirnya tiba di Bizantium. Jumlah besar kemudian mengakibatkan ancaman kepada Bizantium dan Manuel diminta untuk memastikan rombongan tentara Salib ini tidak membuat masalah pada daerah yang dilaluinya.

Di Jerman beberapa kelompok tidak mengindakhkan panggilan perang Salib II terumatam kelompok yang berasal dri Jerman Utara. Pertempuran kemudian meletus sebagai bentuk hukuman kepada kaum Sachon yang lebih mementikan perang melawan bangsa Slavia. Selaian itu, beberapa kelompok dari pasukan kecil Jerman melakukan pertempuran kecil di Philippolis dan Andrinopel tempat jendral Bizantium. Prosouch justru bertempur dengan Kopnakan Conrad yakni Frederick. Hal yang paling buruk adalah banjir bandang yang terjadi pada bulan September membuat rombongan tentara Jerman tewas. Ketibaan di Konstatinopel pada tanggal 10 Sepetember ditahun yang sama membuat Jerman harus segera menyebrangi asia Kecil karen ahubungan dengan Bizantium dan Tentara salib masih tegang. Manuel meminta Conrad untuk meninggalkan beberapa pasukan untuk membantunya melawan Roger II yang juga musuh yang sama dari Conrad namun Conrad tidak memberikan pasukannya.

Setibanya di Asia Kecil, Conrad memutuskan untuk menunggu rombongan pasukan dari Perancis untuk menggempur Iconium yang merupakan Ibukota Kesulatan Rum. Conrad membagi pasuknannya kedalam dua Divisi. Pasukan yang dipimpin langsung oleh Conrad hamper saja menang melawan Seljuk pada tanggal 25 Oktober 1147 di Doryalaeum namun gagal. Seljuk menggunakan taktik yang meperlihat seolah-olah mereka Mundur namun ternyata menyerang Kavelari-kavelari Jerman yang terpisah dair pasukan utama. Conrad akhirnya mundur dari Konstatinopel karena pasukannya yang diserang oleh Turki Seljuk hampir setiap hari. Conrad Sendiri terluka dalam perang tersebut.

Rute Prajurit Salib Perancis

Louis VII dari Perancis, Thierry dari Elsas, Amadeus Dari Savoy, William V Dari Montferrat, Renaut I dari Bar, William VI dari Auvergne memimpin pasukan yang berangkat dari Metz pada bulan Juni 1147. Pasukan ini tidak berangkat sendiri melainkan bergerak dengan pasukan Bretagne, Burgundi dan Aquintaine, sedangkan pasukan yang berada di bawah pimpinan alphonse dan Tolosa dari Provence baru memuali perjalana pada bulan Agustus. Sesampainya di Worms, pasukan salib Louis kemudian bergabung dengan pasukan Inggris dan Normandia kemudian bergerak menyusuri jalur Conrad dengan damai di tengah konflik Louis yang mebawa konflik melawan Geza dariHongaria.

Manuel dan Louis telah begenosiasai yang menyebabkan penghentian kamapnye militer untuk melawan bangsa Rum kemudian melakukan aksi gencatan senajata dengan Mas’ud. Tujuannya tidak lain untuk memusatkan perhatian pada pertahanan kekaisaran dari pasukan salib yang telah melakukan banyak tindakan buruk pasca perang salib I seperti pencurian, perampokan dan penghianatan. Hubungan pasukan PErancis dengan Emanuel jauh lebih baik dibandingkan pasukan Jerman, meskipun Perancis kecewa dengan gencatan senjata yang dilakukan Emanuel dengan Seljuk.
Pasca bergabungnya pasukan Montferrat, savoy dan Auvergne dengan pasukan Louis di Konstatinopel, mereka memilih rute melalui Italia dan menyebrangi Brindisi menuju Durres. Seluruh pasukan gabungan kemudian menyebrang dengan menggunakan Kapal ke Asia Kecil. Hal ini dilakukan berdasarkan Rumor yang beredar bahwa pasukan Jerman telah menaklukkan Iconium, akan tetapi Manuel tidak bersedia meberikan sebagaian tentara Bizantium kepada Louis. Kekaisaran Bizantium baru saja mendapat serangan dari Roger II dari sisilia dan seluruh pasukan tersebut harus siaga di Balkan. Jerman dan Perancis kemudian masuk kea is Kecil tanpa bantuan dari Bizantium, jauh berbeda dengan perang Salib Pertama.  Sesaui dengan tradisi yang dilakukan oleh Manuel, maka Manuel menyuruh orang Perancis untuk menyerahkan wilayah manapaun yang berhasil ditaklukkan ke Kaisaran Romawi Timur.

Perang Salib II terbit dan tenggelam siapa Raja pernacis di perang salib II
Louis VII of France


Pasukan Perancis bergabung dengan sisa-sia pasukan Conrad di Nicea, kemudain bergerak mengikuti rute dari Otto dari Freising dan tiba di Efesus pada ulan Desember. Dalam perjalanan tersebut, Kaisar Bizantium menyampaikan surat keluhan atas penjarahan dan perampokan yang dilakukan oleh Louis sehingga Bizantium tidak bersedia membantu tentara Louis disisi lain Tentara Louis menyadari bahwa bangsa Seljuk Turk telah mempersiapkan senjata untuk melawan pasukan salib II. Conrad kemudian sakit dan kembali Ke Kosntatinopel. Louis yang tidak menghiraukan serangan kaum Seljuk dari hamper saja habis namun kekuatan besar yang dibawah oleh Louis berhasil memebuatnya merebut kemenangan.

Pada Januari 1148, Tentaragabungan yang dipimpin oleh Louis tiba di Laodecia dan hamper bersamaa dengan Otto telah hancur. Gunung Cadmus membuat pasukan dari Savoy dibawah pimpinan Amadeus berpencar kemudain pasukan Louis mengalami kekalahan. PAsukan Seljuk yang berad di atas angina tidak menyerang sisa pasukan Louis yang bergerak Adalia karena Adalia sudah diratakan oleh bangsa Seljuk, sehingga tentara Louis tidak mendapatkan apa-apa di adalia bahkan kelaparan. Karena kekurangan Tenaga, Louis kemudian tidak memilih rute darat tetapi memilih Rute Laut.

Pemilihan Rute laut dihalangi oleh beberapa sebab salah satunya adalah kapal yang dijanjikan untuk mengangkut pasukan Louis tidak kunjung tiba sehingga Louis dan para bansgawan lain bergerak dengan menggunakan Kapal kecil sedangkan sisa pasukkannya yang besar bergerak ke Yerusalem menuju jalur darat. Prajurit yang bergerak melalui jalur darat kemudian habis karena sakit dan juga serangan dari pasukan Seljuk yang berpatroli di daerah tersebut.

Perjalanan Tentara Salib menuju Yerusalem

Setibanya di Antiokhia pada tanggal 19 Maret, Louis bergerak lambat karena adanya badai. Amadeus bernasib naas karena meninggal ketika sedang beregrak di siprus. Paman Alienor, Raymond menyambut Louis dan mengharapkan pertahan dari serangan Pasukan Seljuk dan juga menjadi pasukan dalam ekpedisi penaklukan Alepo akan tetapi Louis menolak dan lebih memilih untuk memusatkan perhatian ke Yerusalem sebagai misi utama dari perang salib. Raymond kemudian menginginkan alienor untuk tetap mendukung Louis meskipun keponakannya menolak membatunya. Louis kemudian bergerak meninggalkan Antiokhia menuju Contu Tripolo, meninggkala Alienor dilain pihak Otto dari Frising dan sisa pasukkannya baru tibal di Yerusalem pada bulan April kemudian disusl oleh Conrad.Seorang Aptriak Yerusalem bernama Fulk dikir untuk mengundang Louis bergabung dengan mereka di Yerusalem.Armad yang telah menaklukkan Lisbao kemudian tidab dibawah pimpina Aphonse dari Tolosa. Aphonse tewas dalam perjalan menuju Yerusalem karena diracun oleh Raymod II dari Tripoli. Sesuai dengan target utama tenatar Salib adalah merebut Edessa, akan tetapi Raja Baldwin lebih memilih untuk menaklukkan damaskus.

Konsili Akko

Kedatangan pasukan Salib Eropa disambut sangat baik di Yerusalem dan mengumjunkan segera melakukan Konsili utnuk menentukan target Utama dai perang Salib. Konsili ini berlangsung pada tanggal 24 Juni 1148. Dewan Haute Cour yang bertemu dengan tentaras salib dari Eropa di Palmarea dekat Kota Akko (Pusat Kota kerajaan Yerusalem) membujuk Conrad dan Louis untuk menaklukan Damaskus.

Para baron yang menyerang Damaskus dianggap tidak bijak dengan penyerangan Damaskus karena dinasti Burid (Muslim) di Damaskus adalah sekutu Yerusalem dalam menaklukan Zengit, akan tetapi Baldwin, Louis dan Conrad ngotot untuk menaklukkan damaskus sebagai salah satu kota suci sebagai hadiah bagi bangsa Eropa. Juli, pasukan dengan kekuatan 50.000 berkumpul di Tiberias kemudian bergerak menuju Damaskus.

Pengepungan Damaskus.

Strategi dari Louis, Baldwin dan Conrad untuk menyerang Damaskun dari arah Barat dengan pertimbangan kebun buah sebagai bekal bagi para tentara ternyata terbaca dengan mudak oleh pasukan Muslim. PAsukan Muslim yang merupakan aliansi dari Saifuddin Ghazi I dari Aleppo dan Nuruddi Zengi dari Mosul bergerak dengan Gerilya dan mengepung Pasukan yang Lousi yang mebuat Camp di dalam kebun buah. Pasukan salib yang kelabakan mendapatkan serangan dari beberapa akhirnya mundur dari perkembunan buah.

William dari Tirus mengatakan bahwa Tentara salib Harus bergerak dari timur yang memiliki pertahan lebih sedikit dibandingkan dari sisi Barat, akan tetapi sisi timur tidak memiliki sumber makan dan air yang memadai untuk melakukan pengepungan. Kehaidran Nuruddin Zengi dari diarena perang membuat pasukan Salib tidka mungkin untuk kembali ke posisi awal mereka. Tentara salib Lokal kemudian menolak untuk meneruskan pengepungan kemudian tiga raja eropa tidka memiliki plihan lain sedalin meninggalkan kota. Conrad bergerak menuju Yerusalem pada tanggal 28 Juni. Dalam proses mereka kembali ke Yerusalem, Pasukan Seljuk mengerjaknya dengan pemanah.

Dampak Penyerangan Damaskus

Kekalahan telak berada di pihak Kristen menyebakan prasangka saling menghianati muncul. Rencana baru penyerangan Ascalon oleh Conrad tidak direpon oleh Yerusalem karena kepercayaan dan Moral Troops yang berkurang pada saat pengepungan Damaskus. Keprcayaan yang berlangsung panjang akhirnya menghancurkan kerajaan Yerusalem. Setelah Ekspedisi Ascalaon dihentikan. Ocnrad kemudian kembali Keonstatinopel untuk memperkuat Manuel dan Louis tetap bertahan di Yerusalem sampai tahun 1149.

Kejadian ini adalah aib tersendir bagi Bernardus dari Clairvaux, kemudian membuat sebuah buku berjudul Book of Considerations sebagai bentuk pengakuan dosa dan pemintaan maaf kepada tentara Salib. Bernadus kemudian meninggal pada tahun 1153. Perang salib Wend membawa kabar baik dari kabar buruk secara bersamaan, beberapa daerah yang ditaklukkan selam perjalan menuju Yerusalem dapat diraih oleh pihak Kristen namun tagert utama Damaskus dan Edessa tidak tercapai.

Serangn ke damaskus membuat kepercayaan kepad Yerusalem berkurang bahkan tidak percaya lagi kepada negara-negara Salib. Baldwin II menguasai Ascalon padsa tahun 1153 dan juga menyeret Mesir masuk dalam konflik ini. Kairo berhasil direbut oleh Yerusalem pada tahun 1160 akan tetapi bantuan dari Eropa mulai berkurang pasca kekalahan Perang Salib II menyebabkan serangan menguasai mesir gagal meskipun Raja Amalric I dari Yerusalem bersekutu dengan Romawi Timur.

Salahuddin al Ayyubi (kopanakan dari salah satu Jenderal Nuruddin) diangkat menjadi Sultan Mesir. Salahuddin kemudian mempersatukan Mesir dan Suriah. Salahuddin kemudian mengepung beberaoa kerajan Salib dilain pihak aliansi dengan Bizantium putus setelah Manuel I meninggal di tahun 1180. Yerusalem berhasil direbut oleh Salahuddin setelah kebodohan Guy de Lusigna yang menyerang 200.000 tentara Salahuddin di padang pasir. Pengepukan menyebakan Yerusalem harus menyerah dibawah sisa tentara Ibelin yang mempertahankan Yerusalem. Salahuddin tetap mengikuti aturan perang dengan membebaskan Guy de Lusignan kembali ke Sibilia istrinya, dan membeasakan seluruh orang Kristen untuk tinggal atau pergi meninggalkan Kota. Berbeda dengan Tentara Salib I yang membunuh seluruh rakyat jelata yang berdarah Kristen Ortodoks, Islam dan Yahudi, Salahuddin memberikan kebebasan bagi mereka yang sudah menyerah.

Baldwin, M. W. (1969). The first hundred years. Madison, WI: University of Wisconsin Press.
Barraclough, Geoffrey (1984). The Origins of Modern Germany. New York: W. W. Norton & Company. p. 481. ISBN 0-393-30153-2.
Brundage, James (1962). The Crusades: A Documentary History. Milwaukee, WI: Marquette University Press.
Christiansen, Eric (1997). The Northern Crusades. London: Penguin Books. p. 287. ISBN 0-14-026653-4.
Davies, Norman (1996). Europe: A History. Oxford: Oxford University Press. p. 1365. ISBN 0-06-097468-0.
Herrmann, Joachim (1970). Die Slawen in Deutschland. Berlin: Akademie-Verlag GmbH. p. 530.
Norwich, John Julius (1995). Byzantium: the Decline and Fall. Viking. ISBN 9780670823772.
Riley-Smith, Jonathan (1991). Atlas of the Crusades. New York: Facts on File.
Riley-Smith, Jonathan (2005). The Crusades: A Short History (Second ed.). New Haven, CT: Yale University Press. ISBN 0-300-10128-7.
Runciman, Steven (1952; repr. Folio Society, 1994). A History of the Crusades, vol. II: The Kingdom of Jerusalem and the Frankish East, 1100–1187. Cambridge University Press.
Tyerman, Christopher (2006). God's War: A New History of the Crusades. Cambridge: Belknap Press of Harvard University Press. ISBN 0-674-02387-0.
William of Tyre; Babcock, E. A.; Krey, A. C. (1943). A History of Deeds Done Beyond the Sea. Columbia University Press. OCLC 310995.

No comments