Sejarah Badik, Senjata Khas Sulawesi Selatan



Sejarah Badik, Senjata Khas Sulawesi Selatan

Dzargon. Kerajaan Gowa-Tallo terkenal dengan kegigihannya dalam berjuang melawan Belanda. Kegigihannya tidak timbul begitu saja ketika penjajah Belanda datang. Bangsa keturunan Gowa-Makassar adlah bangsa yang sering terlibat perang baik sebelum Belanda datang menjajah Indonesia.

Beberapa cerita yang seram selalu menemani orang Makassar di manapun mereka berada. Namun dibalik sikap yang keras dan pemberani ini, bangsa Makassar adalah bangsa yang berbudaya dengan memegang teguh budi pekerti luhur. Darah tidak ditumpahkan begitu saja, melainkan darah adalah harga yang harus dibayar atau digunakan untuk menebus Siri'. Siri' sendiri adalah cara bangsa Makassar menjaga nama baik mereka yang masih tersimpan hingga saat ini.

Salah satu cara menjaga budaya siri' bangsa Makassar dengan Badik. Badik atau badek adalah sejenis pisau dengan bentuk khas yang sering digunakan orang Bugis dan Makassar dalam pertarungan. Badik sering dibawa kemana-mana bahkan beberapa orang percaya bahwa badik adalah jiwa mereka. Tidak membawa badik jika sedang bepergian sama saja meninggalkan jiwa mereka di rumah. Budaya menggunakan badik bahkan pernah mengguncangkan bangsa eropa yang mencoba menjajah kerajaan Gowa-Tallo tertutama kebiasaan orang Makassar saat menebus siri' yakni sitobo lalang lipa.
Sitobo lalang lipa adalah budaya dua orang Makassar yang berkelahi dalam satu kain sarung dengan masing-masing pria membawa sebilah badik. Kebiasaan digunakan untuk menujukkan nilai siri' seorang pria saat dipertanyakan masalah keyakinannya membela Sombaya.
Bentuk badik seperti pisau sederhana dengan salah satu sisi dari bilahnya tajam. Ukuran badik bervariasi berkisar 5 cm sampai dengan 30 cm. Bentuk ini bergantung tujuan sang empu membuatnya. Badik yang baik ditempa oleh orang yang berilmu, biasanya memiliki ilmu nujum sehingga badik bisa memasukkan pamor ke dalam badik. Orang Makassar dapat merasakan pamor dari badik meskipun tersembunyi. Oleh karena itu kualitas Badik mencerminkan kualitas orang yang memegangnya.

Saat ini badik diperjualbelikan secara bebas dan sudah banyak bentuk. Namun tidak semua badik yang dijual memiliki karisma atau pamor yang kuat, bahkan ada beberapa badik yang hanya berbentuk badik tanpa memiliki pamor sedikitpun. Badik dengan pamor yang tinggi biasanya tidak diperjualbelikan, karena pamor dari badik tidak akan berpindah tuan. Meskipun demikian hawa dan pamor dari masing-masing badik berbeda. Beberapa jenis badik bersifat menyerang musuh dengan hawa intimidasi dan beberapa badik jenis lain sangat cocok digunakan untuk berdiplomasi. Isi dari setiap badik bergantung dari si penempa.

Badik Raja (gecong raja, bontoala)

Pamor badik raja

Badik ini berasal dari daerah Kajuara kabupaten Bone. Proses pembuatan badik raja atau Bontoala dipercaya melibatkan mahluk halus sebangsa jin dalam proses penempaannya. Konon orang-orang di sekitar Kajuara suatu ketika mendengar suara tempaan besi dari dalam lanresang pada saat tengah malam. Dan ketika pagi hari tiba-tiba telah ditemukan sebilah badik beserta sarungnya di dalam lanserang tersebut. Tidak seorang pun pandai besi yang mampu badik serupa saat ini.

Bentuk fisik dari badik raha ini memiliki bilah yang relatif besar dengan ukuran 20 sampai 25 cm. Ray divo pengamat senjata tradisional memberikan komentar mengenai badik ini berupa bentuk yang mirip badik Lompobattang. Bentuk bilah yang sedikit membungkuk kemudian semakin ke ujung semakin lebar dan akhirnya meruncing kembali.

Pada badik ini terpasang pamor Timpalaja atau Mallasoan kale di dekat hulu dari badik ini. Bahan badik terbuat dari besi berkualitas tinggi dengan kandungan meteorit yang menonjol dipermukaan. Terdapat pola seperti arus panah hingga ke ujung badik. Pola ini dikenal dengan nama batu-lappa dan untuk pola yang lebih besar disebut dengan bunga pejje atau busa uwae. Motif ini identik dengan pasir yang melekat pada besi. Badik raja hanya digunakan oleh kalangan Arung di kalangan raja Bone.

Badik La Gecong 

Badik berbisa makassar
Pada jaman perang bangsa bugis dan Makassar, terkenal sebuah badik dengan pamornya yang sangat kuat. Badik La Gecong adalah badik dari bugis ini sangat terkenal di medan perang. Tidak satupun musu yang terkena sabetan atau tikaman dari badik ini mampu bertahan untuk menceritakan kisahnya selamat dari tikaman Badik La Gecong.

Badik La Gecong terkenal ammoso, sejenis pamor yang ditanamkan ke dalam badik saat di tempa oleh empunya. Ketika lagecong telah tertancap di batang tubuh seseorang pamor ammoso akan menarik keinginan hidup korbannya. Selain itu konon pada masa perang seluruh senjata perang akan tunduk pada badik La Gecong ini.

Arti kata La Gecong sendiri masih menjadi misteri. Konon Gecong adalah badik yang di buat empunya yang bernama La Gecong tetapi ada jug ayang mengatakan bahwa La Gecong berasal dari kata Gecong atau Geco' yang berarti sekali tersentuh langsung mati.

La Gecong yang asli konon terbuat dari daun Nipa (Rumbia) sehingga ia akan terapung di atas air dan melawan arus. Panjang dari La Gecong berukuran sejengkal tangan orang dewasa. Pamor La Gecong adalah lonjo dengan bentuk pipih tapi sangat kuat.

Badik Luwu 

Pamor badik bertuah
Sesuia dengan namanya, Badik Luwu berasal dari daerah Luwu. Bentuk badik agak sedikit membungkuk yang dalam istilah Makassar dikenal dengan istilah mabbukku tedong. Bilahnya lurus dan runcing dibagian depan. Badik luwu diberi pamor yang sangat indah, hingga saat ini bading Luwu adalah incaran para kolektor benda pusaka. Pada baja badik terdapat Rakkapeng atau sepuhan baja badik yang konon katanya sepuhan badik ini dibuat dari alat kelamin gadis perawan sehingga badik ini dibuat agar ilmu kebal dari sang lawan luntur dengan tikaman dari badik Luwu.

Badik Lompo Battang (badik siperut besar/jantung pisang) 


Badik Lompo Battang secara harfiah diambil dari kata perut buncit atau besar. Dinamakan demikian karena bentuk dari tubuh badik ini menyerupai perut yang sangat buncit. Badik ini merupakan badik asli Makassar. Badik telah berusia 800 tahun yang telah ditempa ulang dari pusaka Berang Alameng atau Berang Sinangke. Badik ini sendiri mengambil pamor dari bahan asalnya yakni tidak akan ada korban yang sanggup bertahan lebih dari satu hari ketika dikenai tikaman Badik ini.

Badik Taeng
Pamor dari badik makassar

Badik Taeng salah satu dari jenis badik yang sudah sepuh. Pamor dari badik berupa Kurissi membentuk sebuah pola dan motif La Metteteng dan La Madderung Manai. Badik ini juga seperti pada umumnya badik sepuh yakni bahanya terbuat dari besi meteorit. Badik ini ditempa dengan menggunakan teknik Baja Gantung. Di badan badik ini terlihat seperi aliran proses pembuatan badik yang khas.
Loading...